Uji Kesiapan Nyata TNI, Bali Jadi Lokasi Laboratorium Pengujian Hadapi Gempa dan Tsunami
📅 Minggu, 09 Agu 2026, 06:45 WIB | Oleh: SriyonoDENPASAR - Bali menjadi laboratorium lokasi pengujian kesiapan TNI dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.
Melalui Latihan Kesiapsiagaan Operasional (LKO) Penanggulangan Bencana Alam Gempa Bumi dan Tsunami Kogabwilhan II Tahun 2026, kemampuan personel hingga koordinasi lintas instansi diuji langsung melalui skenario bencana berskala besar.
Memasuki hari keenam latihan, Sabtu, Kogasgabpad Kodam IX/Udayana menggelar aplikasi lapangan di kawasan Pantai Merta Sari, Denpasar, Bali.
Tahapan ini menjadi bagian penting untuk melihat kesiapan nyata seluruh unsur ketika menghadapi kondisi darurat.
Pengujian tidak hanya menyasar kemampuan personel di lapangan. Prosedur operasi, komando dan pengendalian, interoperabilitas antarsatuan, hingga koordinasi antara TNI dan instansi terkait turut diuji dalam rangkaian latihan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pangkogabwilhan II Marsekal Madya TNI Muzafar menyatakan Indonesia memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai bencana alam, khususnya gempa bumi dan tsunami. Kondisi tersebut membuat kesiapan seluruh unsur menjadi hal yang harus terus diuji dan ditingkatkan.
“Latihan Kesiapsiagaan Operasional ini bertujuan menguji kesiapan prosedur, komando dan pengendalian, interoperabilitas, serta sinergi antarinstansi dalam menghadapi skenario bencana berskala besar,” ujar Muzafar.
Ia mengatakan latihan juga ditujukan untuk memastikan seluruh unsur memiliki kesamaan persepsi dan mampu memberikan respons secara cepat, tepat, terpadu serta terkoordinasi ketika bencana terjadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bali dipilih sebagai lokasi latihan karena memiliki karakteristik geografis dengan potensi ancaman gempa bumi dan tsunami akibat aktivitas tektonik di wilayah Indonesia bagian tengah.
Selain itu, Bali merupakan destinasi pariwisata internasional dengan tingkat mobilitas penduduk dan wisatawan yang tinggi.
Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan bencana di Bali memiliki dimensi yang lebih luas. Respons terhadap bencana tidak hanya menyangkut keselamatan masyarakat lokal, tetapi juga membutuhkan kemampuan menangani mobilitas wisatawan dan berbagai aktivitas masyarakat yang berlangsung di kawasan pariwisata.
Dalam latihan tersebut, kekuatan TNI dari Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara di jajaran Kogabwilhan II dilibatkan. Kekuatan tersebut kemudian bersinergi dengan BNPB/BPBD, Basarnas, Polri, pemerintah daerah, unsur kesehatan, kementerian/lembaga terkait serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Muzafar menegaskan sinergi lintas instansi menjadi salah satu aspek penting yang ingin diuji melalui latihan. Menurutnya, sistem penanggulangan bencana membutuhkan kerja bersama sehingga setiap unsur memahami tugas dan perannya ketika kondisi darurat benar-benar terjadi.
“Yang tidak kalah penting, kita ingin membangun dan memperkuat sinergi antara TNI, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, Polri dan seluruh komponen bangsa, sehingga sistem penanggulangan bencana nasional semakin tangguh, responsif dan efektif,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!