Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Sampai Banten! Mata Warga Mulai Perih

📅 Minggu, 06 Sep 2026, 00:20 WIB | Oleh:
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Sampai Banten! Mata Warga Mulai Perih Doc: Antara foto
Ket. Warga tujukkan abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu malam.

SERANG - Hujan abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mulai melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu malam, yang menyebabkan warga mengeluhkan mata perih hingga mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah.

Sanan (42), warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, saat ditemui di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Sabtu malam, mengatakan paparan abu vulkanik mulai dirasakan menebal di sekitar permukiman warga sejak pukul 17.00 WIB.

"Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai," katanya.

Sanan menambahkan, rentetan suara gemuruh dan getaran yang tidak kunjung berhenti sejak Jumat (4/9) malam mendorongnya berinisiatif mendatangi langsung Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Pasauran untuk memastikan kondisi keamanan gunung tersebut.

Kekhawatiran serupa turut dirasakan oleh Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat.

Ajat sengaja mendatangi Pos PGA Anak Krakatau malam itu untuk memastikan secara langsung status dan kondisi gunung, guna mendapatkan informasi valid yang nantinya akan disampaikan kepada para siswa dan wali murid di sekolah.

Ajat membenarkan bahwa sebaran debu vulkanik tersebut sangat mengganggu kenyamanan dan kesehatan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan.

"Di perjalanan, kalau keadaan tidak memakai masker itu sudah lumayan sakit ke tenggorokan, kemudian mata juga perih kalau tidak pakai kacamata. Walaupun kita tidak terlihat jelas di udara, tapi debu-debunya di pos pemantauan Krakatau ini kelihatan menumpuk," ujarnya.

Informasi langsung dari pos pemantau dirasa sangat penting oleh Ajat, mengingat aktivitas erupsi tersebut telah memicu kecemasan di tengah masyarakat dan berdampak pada sepinya kehadiran siswa di sekolah.

Lebih lanjut, Ajat menuturkan bahwa getaran dan dentuman erupsi ini sebenarnya dianggap sebagai fenomena biasa oleh sebagian besar warga Pasauran, namun ada sebagian warga yang berinisiatif untuk mengamankan diri.

"Masyarakat itu masih aman-aman saja karena hal-hal ini sudah biasa dan alami di warga Pasauran. Tetapi memang ada beberapa warga yang berinisiatif mengamankan dirinya sendiri ke daerah pegunungan," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Megapolitan
Makin Dilirik Warga Ibu Kot...
Nasional
Aset Bupati Gowa Rp5,5 Mili...
Advertisement
Timnas Indonesia Libas Singapura 2-0, Ragnar dan Ole Romeny Ngamuk di Gelora Bung Karno

Timnas Indonesia Libas Singapura 2-0, Ragnar dan Ole Romeny Ngamuk di Gelora Bung Karno

25 Sep 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.