Iran Hampir Capai Kesepakatan dengan Oman soal Selat Hormuz, Trump Tunda Serangan
📅 Senin, 03 Agu 2026, 04:00 WIB | Oleh: Tim PenulisTeheran – Iran pada Minggu (2/8) menyatakan hampir mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru di Selat Hormuz, hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) membatalkan rencana serangan besar demi membuka ruang diplomasi.
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (1/8) mengatakan AS dan Israel sepakat menunda serangan baru terhadap Iran karena peluang tercapainya kesepakatan dinilai semakin terbuka.
Konflik antara Iran dengan AS dan Israel telah berlangsung sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran. Meski demikian, upaya diplomasi yang berlangsung secara berkala sempat menciptakan periode ketenangan.
Setelah serangan kembali terjadi bulan lalu, kekhawatiran akan eskalasi perang kembali meningkat. Trump bahkan sempat mengancam akan menyerang Iran dengan "sangat keras" dan dilaporkan mempertimbangkan serangan baru, termasuk terhadap infrastruktur energi. Kedutaan Besar AS di berbagai negara Timur Tengah juga sempat berada dalam status siaga.
Namun, arah kebijakan tersebut berubah setelah serangkaian upaya diplomatik, termasuk pembicaraan Trump dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Sebaiknya Anda baca juga:
Trump mengklaim Iran dan sejumlah negara Timur Tengah meminta AS menunda serangan karena kerangka awal kesepakatan telah tercapai.
"Kami baru saja diminta oleh Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya untuk menunda serangan karena kerangka kesepakatan telah disetujui," tulis Trump melalui platform Truth Social.
Ia menambahkan bahwa demi kepentingan dunia dan masa depan Iran yang damai serta makmur, dirinya memutuskan membatalkan serangan dengan syarat kesepakatan dapat segera diwujudkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, Trump tidak menjelaskan secara rinci perkembangan negosiasi tersebut. Sementara itu, media Iran membantah bahwa Teheran pernah meminta Trump untuk membatalkan serangan.
Fokus pada Selat Hormuz
Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Hassan Ghashghavi, mengatakan para mediator tengah berupaya menghidupkan kembali nota kesepahaman Islamabad yang disepakati pada Juni lalu.
Menurutnya, dokumen tersebut bukan merupakan perjanjian damai final, melainkan landasan untuk perundingan menuju kesepakatan yang lebih komprehensif. Salah satu poin pentingnya adalah pengaturan Selat Hormuz.
"Mereka memahami bahwa isu utama saat ini adalah Selat Hormuz. Karena itu memang sedang terjadi pertukaran pandangan," ujar Ghashghavi.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia dan menjadi titik utama perselisihan dalam negosiasi.
Sebelum perang pecah, seluruh kapal dapat melintas secara bebas. Namun selama konflik berlangsung, Iran menutup selat tersebut dan kini bersikeras tetap mengendalikan jalur pelayaran serta mengenakan biaya bagi kapal yang melintas. Kebijakan itu ditolak oleh Amerika Serikat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!