Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Xi Jinping Ingin AI Kuasai Seluruh Medan Perang, Tiongkok Siapkan Mesin Perang Masa Depan

📅 Minggu, 02 Agu 2026, 05:09 WIB | Oleh:
Xi Jinping Ingin AI Kuasai Seluruh Medan Perang, Tiongkok Siapkan Mesin Perang Masa Depan Doc: Istimewa
Ket. Dorongan terbaru dari Xi Jinping juga datang bersamaan dengan percepatan modernisasi militer Tiongkok secara menyeluruh.

BEIJING - Presiden Tiongkok Xi Jinping kembali menegaskan ambisinya untuk membawa Tentara Pembebasan Rakyat atau PLA memasuki era "perang cerdas". Menjelang peringatan hari jadi ke-99 PLA, Xi meminta seluruh jajaran militer mempercepat penerapan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di hampir seluruh aspek operasi militer, mulai dari sistem komando hingga platform tempur tanpa awak.

Dari Military Watch Magazine, dalam pertemuan para pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi menekankan bahwa masa depan peperangan akan sangat ditentukan oleh teknologi baru. Menurutnya, AI dan sistem tanpa awak bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan akan menjadi tulang punggung kekuatan tempur modern.

Xi juga menginstruksikan militer untuk mempercepat pembangunan "sistem militer cerdas", sebuah konsep yang diyakini akan menjadi fondasi transformasi PLA menuju angkatan bersenjata kelas dunia.

Berbeda dengan banyak negara yang masih mengembangkan AI untuk fungsi-fungsi tertentu, Tiongkok justru ingin menjadikan kecerdasan buatan sebagai pusat dari seluruh jaringan peperangan. Dalam doktrin militernya, AI diposisikan sebagai teknologi yang mampu menghubungkan sensor, jaringan komunikasi, sistem komando, senjata presisi, hingga berbagai platform tempur tanpa awak ke dalam satu ekosistem yang saling terintegrasi.

Dengan cara itu, informasi dari radar, satelit, drone, kapal perang, hingga pesawat tempur dapat diproses dalam hitungan detik. Target dapat diidentifikasi lebih cepat, keputusan dapat diambil hampir secara real-time, dan serangan presisi bisa dilancarkan tanpa banyak campur tangan manusia.

Strategi ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Selama lebih dari satu dekade, para perencana pertahanan Tiongkok menggambarkan evolusi peperangan dalam tiga tahap, yaitu mekanisasi, informatisasi, dan kini memasuki tahap inteligensi, ketika kecerdasan buatan mulai mengambil alih berbagai fungsi yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia.

Karena itu, PLA telah menggelontorkan investasi besar untuk mengembangkan berbagai teknologi berbasis AI. Mulai dari sistem pengintaian otomatis, drone tempur, kapal tanpa awak, kendaraan bawah laut otonom, hingga perangkat lunak pendukung pengambilan keputusan di pusat komando.

Tujuannya adalah memperpendek waktu antara proses pendeteksian target dan peluncuran serangan, meningkatkan kesadaran situasional di medan perang, serta memungkinkan komandan menganalisis jutaan data dalam waktu yang nyaris seketika.

Salah satu kekuatan terbesar Tiongkok terletak pada industri teknologi sipilnya. Perusahaan-perusahaan seperti Huawei, Tencent, Alibaba, hingga berbagai perusahaan rintisan AI telah menjadi pemain utama dunia dalam bidang pembelajaran mesin, visi komputer, dan pengolahan data.

Melalui kebijakan fusi militer-sipil, Beijing memastikan setiap kemajuan teknologi yang lahir di sektor komersial dapat segera dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan. Dengan kata lain, inovasi yang dikembangkan perusahaan swasta dapat langsung diadaptasi menjadi teknologi militer.

Pendekatan ini dinilai berbeda dengan banyak negara Barat yang umumnya memisahkan riset militer dan sipil. Di Tiongkok, hampir seluruh kemajuan teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mempercepat modernisasi angkatan bersenjata.

Ke depan, AI diproyeksikan akan memainkan peran di hampir seluruh lini operasi militer. Teknologi ini akan membantu memperkuat sistem pertahanan udara, meningkatkan kemampuan pengenalan target rudal, mengoptimalkan logistik militer, mengoordinasikan kawanan drone dalam jumlah besar, hingga meningkatkan akurasi serangan jarak jauh.

Hasil akhirnya adalah sebuah kekuatan militer yang mampu bergerak jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya, sekaligus mengurangi ketergantungan pada operator manusia dalam fase-fase paling kritis sebuah pertempuran.

Peran sistem tanpa awak juga diperkirakan akan semakin dominan. Saat ini Tiongkok sudah menjadi salah satu produsen drone militer terbesar di dunia. Dalam beberapa pameran pertahanan terakhir, Beijing juga memamerkan pesawat tempur nirawak siluman, kendaraan tempur robotik, kapal tanpa awak, hingga robot anjing bersenjata yang dapat beroperasi secara semi-otonom.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Rona
Dari yang Paling Horor Hing...
Ekonomi
Produk UMKM Lebak Makin Lar...
Megapolitan
Cuaca Jakarta Hari Minggu I...
Olahraga
Inter Milan Pesta Gol! Monz...

‘It Ends’: Backrooms Perjalanan di Pedalaman

1 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Rona
‘It Ends’: Backrooms Pe...
Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

22 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.