El Nino Terkuat dalam 75 Tahun Diprediksi Picu Cuaca Ekstrem di Asia-Pasifik
📅 Jumat, 31 Jul 2026, 06:30 WIB | Oleh: AndesMenurut dia, Asia Timur diperkirakan menghadapi risiko topan yang lebih tinggi, termasuk perubahan jalur dan intensitas badai. Wilayah selatan dan timur China juga berpotensi mengalami curah hujan di atas normal yang meningkatkan risiko banjir.
Sebaliknya, sejumlah wilayah di India diperkirakan mengalami curah hujan di bawah rata-rata sehingga meningkatkan potensi kekeringan dan krisis air.
"Kesimpulan utamanya adalah El Nino menggeser distribusi risiko cuaca di Asia. Banyak wilayah di Asia-Pasifik akan menghadapi peningkatan risiko bencana alam pada paruh kedua 2026," ujar Grimm.
Munich Re, yang berperan sebagai perusahaan reasuransi atau penyedia perlindungan bagi perusahaan asuransi, mencatat dari total kerugian global akibat bencana alam sebesar 112 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juni 2026, hanya sekitar 44 miliar dolar AS yang ditanggung oleh asuransi.
Di kawasan Asia-Pasifik, total kerugian mencapai sekitar 8,7 miliar dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun terakhir yang mencapai 32 miliar dolar AS untuk periode yang sama. Dari jumlah tersebut, hanya sedikit di atas 1 miliar dolar AS yang diasuransikan.
Banjir besar di wilayah tengah dan selatan China pada Mei serta kebakaran hutan di Australia menjadi penyumbang utama kerugian di kawasan tersebut.
Gelombang Panas
Sementara di Eropa, badai musim dingin menyebabkan kerusakan luas. Dalam waktu sedikit lebih dari satu bulan pada awal 2026, sembilan badai melanda Portugal dan Spanyol.
Badai paling merusak adalah Badai Kristin pada akhir Januari yang menimbulkan kerugian sekitar 7,7 miliar dolar AS, dengan sekitar 1,8 miliar dolar AS di antaranya ditanggung asuransi.
Di Amerika Serikat, rangkaian tornado dan badai musim dingin menewaskan puluhan orang serta menyebabkan kerugian sekitar 47 miliar dolar AS, dengan 34 miliar dolar AS di antaranya diasuransikan.
Munich Re juga menyoroti meningkatnya risiko akibat gelombang panas yang memecahkan rekor di Amerika Utara dan Eropa sepanjang paruh pertama 2026.
Perusahaan tersebut menyatakan berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara gelombang panas dan perubahan iklim. Gelombang panas merupakan bencana alam yang menyebabkan korban jiwa terbanyak, meskipun dampak ekonominya sulit dihitung karena umumnya tidak menimbulkan kerusakan langsung pada properti.
Menurut Munich Re, kerugian terbesar akibat gelombang panas justru berasal dari menurunnya produktivitas tenaga kerja, terhentinya kegiatan produksi, kerusakan infrastruktur, gangguan transportasi, hingga gagal panen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!