Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Banjir Bandang dan Longsor di Nepal-Tibet Tewaskan 750 Orang, Ribuan Masih Hilang

📅 Minggu, 30 Agu 2026, 18:15 WIB | Oleh:
Banjir Bandang dan Longsor di Nepal-Tibet Tewaskan 750 Orang, Ribuan Masih Hilang Doc: YeniSafak
Ket. Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Nepal dan wilayah Tibet, Tiongkok, meningkat menjadi 750 orang. Tim penyelamat masih berpacu dengan waktu untuk mencari lebih dari 3.000 orang yang dinyatakan hilang setelah jebolnya danau glasial pada Rabu.

JAKARTA - Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Nepal dan wilayah Tibet, Tiongkok, meningkat menjadi 750 orang. Tim penyelamat masih berpacu dengan waktu untuk mencari lebih dari 3.000 orang yang dinyatakan hilang setelah jebolnya danau glasial pada Rabu.

Bencana tersebut melanda sejumlah kawasan di sepanjang Himalaya dan menimbulkan kerusakan besar terhadap permukiman serta infrastruktur. Aliran air dan material longsor dalam jumlah besar menerjang lembah-lembah setelah danau glasial mengalami keruntuhan secara tiba-tiba.

Di Nepal, sebanyak 2.498 orang masih belum ditemukan dalam operasi pencarian yang terus dilakukan hingga Minggu. Jumlah tersebut mencakup 589 warga negara asing, 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air, serta 127 pemandu asal Nepal yang saat kejadian mendampingi wisatawan.

Sementara itu, pihak berwenang Tiongkok melaporkan 16 orang meninggal dunia dan 546 lainnya masih hilang di wilayah Tibet. Secara keseluruhan, jumlah korban hilang dari kedua wilayah tersebut telah melampaui 3.000 orang sehingga pencarian terus diperluas.

Hampir 20.000 personel keamanan dikerahkan untuk membantu proses evakuasi dan pencarian korban. Operasi penyelamatan menggunakan helikopter juga telah mengevakuasi 279 pekerja pembangkit listrik tenaga air dan 227 warga negara asing ke lokasi yang lebih aman.

Proses pencarian menghadapi tantangan berat karena kondisi geografis wilayah terdampak. Medan pegunungan yang curam, lembah sempit, lumpur tebal, serta sejumlah jurang membuat tim penyelamat kesulitan menjangkau lokasi yang diduga menjadi tempat korban berada.

Pemerintah Nepal bahkan meminta bantuan khusus untuk mendukung operasi penyelamatan di dalam terowongan. Selain itu, teknologi pendeteksi korban selamat dan kemampuan analisis forensik juga dibutuhkan untuk membantu proses pencarian serta identifikasi korban.

Wakil Inspektur Jenderal Kepolisian Nepal Abi Narayan Kafle mengatakan proses identifikasi jenazah menjadi persoalan tersendiri karena sebagian korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan. “Banyak jenazah yang ditemukan dalam kondisi termutilasi, sebagian atau terputus, sehingga identifikasi visual menjadi sangat sulit,” kata Kafle kepada Kathmandu Post.

Kondisi jenazah juga semakin menyulitkan proses identifikasi karena banyak korban tertimbun selama berhari-hari. “Banyak jenazah terkubur di bawah lumpur dan air tebal selama dua hingga tiga hari,” ujar Kafle.

Situasi tersebut membuat fasilitas pemulasaraan jenazah di sejumlah rumah sakit mulai mengalami keterbatasan kapasitas. Pihak berwenang kini berupaya mengamankan bukti forensik sekaligus mencari lokasi yang memadai untuk menampung korban meninggal yang terus ditemukan.

Untuk memperkuat operasi penyelamatan, tim khusus dari India juga telah tiba di Nepal. Sebanyak 11 personel yang memiliki kemampuan dalam penyelamatan terowongan dikerahkan untuk membantu tim lokal menghadapi kondisi medan yang sulit.

Respons terhadap bencana juga datang dari komunitas internasional. Amerika Serikat pada Sabtu mengumumkan bantuan kemanusiaan senilai lebih dari US$3,6 juta untuk Nepal, termasuk bantuan pangan darurat yang diperkirakan dapat menjangkau hingga 10.000 rumah tangga terdampak.

Selain melakukan pencarian korban, pihak berwenang juga memantau potensi bencana susulan. Sebuah danau baru yang terbentuk di kawasan Himalaya sempat menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi kembali meluapkan air ke wilayah sekitarnya.

Pejabat Tiongkok menyatakan kondisi danau tersebut telah berubah secara signifikan setelah sebagian besar airnya mengalir secara alami. Menurut laporan pihak berwenang, danau tersebut kini telah menyusut drastis dan pada dasarnya sudah mengering.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
  • Indonesia Kantongi 5 Medali Asian Games
    persaingan ketat, mungkinkah kontingen Indonesia bisa masuk 3 ...
Advertisement
Luke Vickery Hingga Maarten Paes Tiba di Jakarta, Skuad Mewah John Herdman Siap Mengguncang FIFA ASEAN Cup 2026

Luke Vickery Hingga Maarten Paes Tiba di Jakarta, Skuad Mewah John Herdman Siap Mengguncang FIFA ASEAN Cup 2026

21 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.