Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tak Semua Kelainan Refraksi Membutuhkan Tindakan yang Sama, Pemeriksaan Kornea Jadi Kunci

📅 Rabu, 29 Jul 2026, 17:45 WIB | Oleh:
Tak Semua Kelainan Refraksi Membutuhkan Tindakan yang Sama, Pemeriksaan Kornea Jadi Kunci Doc: Koran Jakarta - Haryo Brono
Ket. Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Head of Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ), Dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), dalam acara Media Session: Laser Vision Correction di Jakarta pada Rabu (29/7).

JAKARTA - Gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi tidak selalu dapat ditangani dengan prosedur yang sama. Perubahan ukuran kacamata yang berlangsung cepat, pandangan berbayang, hingga keluhan silau dan halo yang semakin mengganggu dapat menjadi tanda adanya irregularitas atau penyakit pada kornea yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Kondisi tersebut menjadi perhatian seiring semakin beragamnya pilihan koreksi penglihatan yang tersedia. Mulai dari kacamata, LASIK, LASIK Xtra, SMILE® Pro, Implantable Collamer Lens (ICL), corneal cross-linking (CXL), hingga penggunaan lensa kontak khusus, setiap metode memiliki indikasi dan pertimbangan medis yang berbeda.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 1 miliar kasus sebenarnya dapat dicegah atau belum mendapatkan penanganan yang memadai.

Gangguan refraksi dan katarak menjadi dua penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan secara global. Persoalan ini juga berdampak terhadap produktivitas dan perekonomian, dengan estimasi kerugian ekonomi mencapai sekitar US$411 miliar per tahun.

Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Head of Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ), Dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), mengatakan kelainan refraksi berkaitan dengan perubahan bentuk atau kelengkungan kornea.

“Perubahan bentuk atau kelengkungan kornea dapat menyebabkan kelainan refraksi, seperti miopia atau rabun jauh, hipermetropia atau rabun dekat, serta astigmatisme atau mata silinder,” ujar Sharita dalam acara Media Session: Laser Vision Correction di Jakarta pada Rabu (29/7).

Menurut dia, tidak semua astigmatisme memiliki karakteristik yang sama. Pada astigmatisme reguler, kelengkungan kornea masih berpola teratur sehingga umumnya dapat dikoreksi menggunakan kacamata. Sebaliknya, astigmatisme tidak teratur dapat menyebabkan cahaya tersebar ke beberapa titik.

Kondisi tersebut dapat membuat pasien mengalami pandangan berbayang, distorsi, silau, hingga halo. Karena itu, perubahan ukuran kacamata secara cepat tidak selalu berarti pasien hanya membutuhkan resep kacamata baru. Dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut dapat menjadi petunjuk adanya perubahan struktur kornea yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

Kacamata sendiri bekerja dengan membelokkan cahaya yang masuk ke mata sehingga gambar dapat terbentuk lebih jelas pada retina. Namun, penggunaan kacamata tidak mengubah atau memperkuat struktur kornea.

Pada kelainan refraksi yang stabil, kacamata tetap menjadi metode koreksi yang aman dan efektif. Namun, apabila terdapat penyakit kornea yang bersifat progresif, mengganti kacamata secara berulang tidak akan menghentikan perubahan struktur kornea yang sedang berlangsung.

Tidak Ada Satu Prosedur untuk Semua Mata

Perkembangan teknologi bedah refraktif kini memberikan lebih banyak pilihan bagi pasien. Namun, banyaknya pilihan tersebut justru membuat pemeriksaan awal menjadi semakin penting.

Pemilihan tindakan tidak hanya ditentukan oleh besarnya ukuran minus, plus, atau silinder. Dokter perlu mempertimbangkan ketebalan dan bentuk kornea, stabilitas ukuran kacamata, kondisi permukaan mata, hingga anatomi mata secara keseluruhan.

Salah satu prosedur yang banyak dikenal adalah LASIK. Prosedur ini dilakukan dengan membentuk lapisan tipis atau flap pada kornea menggunakan laser femtosecond. Flap kemudian dibuka untuk memberikan akses ke lapisan stroma, sebelum laser excimer digunakan untuk membentuk ulang kornea sesuai kebutuhan koreksi penglihatan pasien. Setelah proses koreksi selesai, flap dikembalikan ke posisi semula tanpa memerlukan jahitan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Niger Tuduh Prancis di Balik Teror Bandara Niamey

40 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Niger Tuduh Prancis di Bali...
Ekonomi
Sepanjang Semester I 2026 P...
Luar Negeri
Bangladesh Krisis Gas, Paso...
Luar Negeri
Angka Kelahiran Singapura M...
  • Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang
    Preview komentar:
    2 kelompok warga, itu warga mana dg warga ...
  • Kementan Bantu Bibit Kelapa untuk Petani Barito Kuala, Produktivitas Perkebunan Ditingkatkan.
    Preview komentar:
    Di barisan paling depan, Kementerian Pertanian memainkan ...
    Keren
  • Penutupan Perlintasan Liar Kereta di Kediri
    Preview komentar:
    Wah, berarti kalau sehari hari kan lewat perlintasan ...

Jadwal dan Harga Tiket GIIAS 2026, Dijual Mulai Rp50 Ribu

Jadwal dan Harga Tiket GIIAS 2026, Dijual Mulai Rp50 Ribu

29 Jul 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.