Lebak Terapkan Teknologi IB untuk Tingkatkan Populasi Ternak Kerbau
📅 Minggu, 26 Jul 2026, 09:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
LEBAK – Kepala bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lebak Rieyan Dermawan mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat pengembangan peternakan kerbau melalui penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) untuk meningkatkan populasi ternak dan produktivitas usaha masyarakat.
Menurut Rieyan Dermawan di Lebak, Sabtu (25/7), peternakan kerbau hingga kini masih menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat desa di Kabupaten Lebak. Populasi kerbau saat ini mencapai sekitar 15 ribu ekor dan diproyeksikan terus bertambah melalui pemanfaatan teknologi reproduksi yang lebih modern.
"Ke depan dikembangkan teknik budidaya yang lebih baik agar populasi kerbau terus meningkat melalui kelahiran anakan sehingga mendukung upaya swasembada daging kerbau," katanya.
Selain peningkatan populasi, pemerintah daerah juga menilai modernisasi budidaya menjadi langkah penting karena sebagian besar peternak masih menerapkan pola pemeliharaan tradisional.
Penerapan teknologi reproduksi diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan populasi sekaligus meningkatkan produktivitas usaha peternakan rakyat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kerbau yang dipelihara masyarakat merupakan jenis kerbau lumpur dengan bobot dewasa berkisar 500 hingga 700 kilogram sehingga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi di pasaran.
Di tingkat peternak, usaha ternak kerbau masih menjadi sumber pendapatan utama keluarga. Asep (50), peternak di kawasan perkebunan kelapa sawit Rangkasbitung, mengatakan usaha yang telah dijalankan selama sekitar dua dekade mampu meningkatkan taraf hidup keluarganya.
Ia mengelola sekitar 45 ekor kerbau yang digembalakan setiap hari di kawasan perkebunan yang memiliki ketersediaan hijauan pakan melimpah.
Menurut Asep, setiap tahun dirinya dapat menjual sekitar lima ekor kerbau dengan nilai penjualan mencapai sekitar Rp150 juta. Hasil usaha tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membangun rumah, hingga membiayai pendidikan dua anaknya sampai perguruan tinggi.
Hal serupa disampaikan Jamawi (60), peternak asal Solear, Kecamatan Maja, yang menilai peternakan kerbau masih menjadi usaha yang memberikan kepastian pendapatan bagi masyarakat pedesaan.
Ia memelihara sekitar 35 ekor kerbau dan rata-rata menjual lima ekor setiap tahun dengan nilai sekitar Rp150 juta. Harga kerbau berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta per ekor, bergantung pada ukuran dan kualitas ternak.
Menurut Jamawi, keberadaan kawasan perkebunan kelapa sawit memberikan keuntungan bagi peternak karena menyediakan hamparan rumput sebagai sumber pakan alami. Setiap hari ratusan ekor kerbau digembalakan di kawasan tersebut sehingga biaya pemeliharaan relatif lebih efisien.
Pengembangan peternakan kerbau dinilai memiliki prospek ekonomi yang besar karena tidak hanya menopang pendapatan rumah tangga peternak, tetapi juga mendukung penyediaan ternak potong di daerah.
Dengan penguatan teknologi budidaya, peningkatan populasi, serta pemanfaatan sumber daya pakan lokal, sektor peternakan kerbau di Kabupaten Lebak diharapkan semakin berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi pedesaan dan penguatan ketahanan pangan nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!