BI Perlu Beri Sinyal Akhir Pengetatan Moneter untuk Jaga Likuiditas dan Kepercayaan Pasar
📅 Selasa, 21 Jul 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai Bank Indonesia (BI) perlu memberikan sinyal yang jelas (expectation guidance) mengenai berakhirnya siklus pengetatan moneter agar ekspektasi pasar menjadi lebih stabil dan kondisi likuiditas dapat segera membaik.
Menurut Fakhrul, selama pasar belum memperoleh kepastian mengenai akhir siklus pengetatan moneter, transmisi kebijakan BI akan terus berlanjut ke sektor perbankan melalui kenaikan suku bunga simpanan dan biaya pendanaan. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang tekanan likuiditas lebih lama dari yang dibutuhkan.
"Dengan memberikan arahan bahwa kenaikan suku bunga pada Juli merupakan bagian akhir atau mendekati akhir dari siklus pengetatan, ekspektasi pasar akan menjadi lebih netral. Hal tersebut akan membantu membatasi transmisi kenaikan suku bunga ke biaya dana perbankan dan mempercepat terbentuknya ekspektasi bahwa kondisi likuiditas akan mulai membaik dalam beberapa bulan ke depan," kata Fakhrul di Jakarta, Senin (20/7).
Ia menjelaskan, komunikasi mengenai arah kebijakan (forward guidance) kini menjadi instrumen yang sama pentingnya dengan perubahan suku bunga acuan itu sendiri.
"Ketika pasar memahami arah kebijakan BI ke depan, proses penyesuaian di pasar uang, pasar obligasi hingga sektor perbankan akan berlangsung lebih cepat dan lebih efisien," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Fakhrul menambahkan, keberhasilan BI tidak hanya diukur dari kemampuannya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi juga dari keberhasilannya mengelola transisi menuju normalisasi likuiditas tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap sektor keuangan.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar menaikkan suku bunga, tetapi membawa pasar kembali ke kondisi yang lebih netral, menjaga kepercayaan investor, dan memastikan normalisasi likuiditas berlangsung secara terukur tanpa mengganggu momentum pemulihan ekonomi," katanya.
Meski pasar keuangan Indonesia menunjukkan penguatan dalam sepekan terakhir, Fakhrul menilai kondisi tersebut belum menghilangkan kebutuhan BI untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, penguatan sentimen dipicu meningkatnya kepercayaan investor, termasuk setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level investment grade BBB dengan prospek stabil.
Namun, ia mengingatkan bahwa perbaikan pasar jangka pendek tidak berarti seluruh risiko eksternal telah mereda.
"Indonesia masih membutuhkan arus modal asing yang besar hingga akhir tahun. Momentum positif ini perlu diperkuat melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel," ujarnya.
Fakhrul memperkirakan Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal sekitar 11 miliar dolar AS hingga akhir 2026 guna menjaga keseimbangan neraca pembayaran sekaligus memperkuat stabilitas rupiah.
Karena itu, ia menilai BI perlu menjaga daya tarik aset keuangan domestik dengan melanjutkan kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps pada RDG Juli.
"Ini bukan semata karena kondisi pasar saat ini, tetapi karena BI sebelumnya telah menyampaikan pendekatan yang bersifat pre-emptive. Kredibilitas bank sentral dibangun ketika komunikasi tersebut diikuti implementasi kebijakan," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!