Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Booming AI Asia Tenggara: Singapura Jaga Pasar Premium, Malaysia Kuasai Ekspansi

📅 Senin, 13 Jul 2026, 13:49 WIB | Oleh:

Ketika Singapura membatasi ekspansi, pembangunan pusat data di Malaysia justru melonjak. Total kapasitas dalam jalur pengembangan disebut telah mendekati 13 gigawatt (GW), lebih besar dibandingkan gabungan kapasitas Indonesia, Thailand, dan Singapura.

JPMorgan menilai Malaysia kini bukan lagi sekadar pasar alternatif bagi Singapura. Negara tersebut telah berkembang menjadi tujuan utama bagi perusahaan penyedia layanan cloud berskala besar atau hyperscalers.

Daya tarik utamanya adalah kecepatan pembangunan dan biaya yang lebih rendah. Rata-rata biaya pengembangan pusat data di Malaysia sekitar 7 juta dolar AS per MW, jauh di bawah Singapura yang mencapai 12 juta dolar AS per MW.

Malaysia juga memiliki keuntungan dari sistem utilitas yang lebih terpusat. Melalui Green Lane Pathway yang dipimpin Tenaga Nasional, proses penyediaan tenaga listrik dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga tahun. Angka tersebut lebih cepat dibandingkan rata-rata empat tahun di Thailand.

Dukungan lain datang dari akses terhadap energi hijau melalui skema Corporate Renewable Energy Supply Scheme. Sementara itu, program Digital Ecosystem Acceleration menawarkan insentif pajak yang dapat mencakup 60 hingga 100 persen dari belanja modal yang memenuhi persyaratan.

Booming Pusat Data Mulai Menghadapi Penolakan

Namun, ledakan pembangunan pusat data di Malaysia bukan tanpa risiko. JPMorgan menyoroti meningkatnya pengawasan publik dan lingkungan terhadap konsumsi listrik dan air dalam skala besar.

Protes lokal di Johor terkait penggunaan sumber daya menjadi salah satu peringatan. Penolakan serupa terhadap pembangunan pusat data juga telah muncul di Amerika Serikat dan Singapura.

Karena itu, kemampuan perusahaan mempertahankan “izin sosial” dari masyarakat dinilai akan semakin penting. Penggunaan energi hijau, pengembangan tenaga kerja lokal, serta kontribusi terhadap komunitas menjadi faktor yang dapat menentukan kelancaran jadwal pembangunan proyek.

Bagi investor yang ingin menangkap booming infrastruktur AI di kawasan, JPMorgan menyoroti dua pilihan utama.

Di Singapura, Keppel DC REIT dinilai dapat memperoleh keuntungan dari pertumbuhan tarif sewa dan pengembangan kembali aset lama dengan potensi pengembalian tinggi.

Sementara di Malaysia, Sunway Construction dipandang sebagai salah satu perusahaan yang berpotensi menikmati langsung gelombang pembangunan pusat data yang ditopang jalur proyek berkapasitas hampir 13 GW.

Perkembangan ini memperlihatkan pembagian peran yang semakin jelas. Singapura tetap menjadi pasar pusat data premium yang langka, mahal, dan sangat efisien. Sementara Malaysia berkembang menjadi lahan ekspansi utama bagi gelombang baru infrastruktur cloud dan AI di Asia Tenggara. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Bukan Pengacara, Korea Sela...
Luar Negeri
AS Desak Kuba Segera Reform...
Megapolitan
Pemkot Bogor Bertekad untuk...
100% Dalam 4 Menit , Tiongkok Kembangkan Baterai Natrium yang Diklaim Awet Bertahun-tahun

100% Dalam 4 Menit , Tiongkok Kembangkan Baterai Natrium yang Diklaim Awet Bertahun-tahun

13 Jul 2026
Pilihan Pembaca
# 7
# 7
Sentimen Global Dominan, 13 Juli 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.