Booming AI Asia Tenggara: Singapura Jaga Pasar Premium, Malaysia Kuasai Ekspansi
📅 Senin, 13 Jul 2026, 13:49 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSINGAPURA – Peta industri pusat data di Asia Tenggara semakin terbagi menjadi dua kutub. Singapura diperkirakan tetap mempertahankan statusnya sebagai pasar premium dengan kekuatan harga yang tinggi, sementara Malaysia muncul sebagai tujuan utama ekspansi kapasitas pusat data hyperscale dan kecerdasan buatan (AI).
Dalam catatan riset tertanggal 7 Juli, analis JPMorgan menilai standar efisiensi yang semakin ketat di Singapura akan menjadi “katalis struktural” yang memperjelas perbedaan peran kedua negara dalam industri pusat data regional.
Singapura akan semakin fokus mengoptimalkan keterbatasan lahan dan energi, sedangkan Malaysia bergerak cepat menyediakan ruang bagi gelombang ekspansi berikutnya.
“Singkatnya, Singapura mengoptimalkan setiap megawatt (MW); Malaysia memanfaatkan megawatt berikutnya,” tulis JPMorgan.
Singapura saat ini termasuk salah satu pasar pusat data termahal di dunia. Biaya sewanya mencapai 330 dolar AS hingga 475 dolar AS per kilowatt per bulan. Dengan tingkat hunian yang nyaris penuh dan kapasitas terbatas, tarif tersebut lebih dari dua kali lipat biaya di pasar negara maju seperti Sydney dan Virginia Utara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tekanan terhadap pasokan diperkirakan semakin kuat seiring rencana penerapan Undang-Undang Infrastruktur Digital Singapura.
Berdasarkan Pasal 33 dalam rancangan aturan tersebut, operator pusat data dengan beban teknologi informasi kritis sebesar 3 MW atau lebih diwajibkan memenuhi standar efisiensi energi dan air yang ketat.
Regulator juga akan memiliki kewenangan mengurangi kapasitas listrik yang diizinkan apabila operator gagal memenuhi ketentuan. Pelanggaran bahkan dapat dikenai sanksi finansial hingga 10 persen dari omzet tahunan operator di Singapura.
Sebaiknya Anda baca juga:
JPMorgan memperkirakan regulasi tersebut akan mendorong operator baru maupun lama menerapkan standar Power Usage Effectiveness (PUE) yang ketat, yakni sekitar 1,25 hingga 1,3, sejalan dengan Peta Jalan Pusat Data Hijau Singapura 2024.
PUE merupakan indikator efisiensi penggunaan energi pusat data. Semakin mendekati angka 1, semakin efisien fasilitas tersebut dalam menggunakan listrik.
Meskipun sekitar 200 MW kapasitas baru dari alokasi CFA-2 akan masuk ke pasar, tambahan pasokan itu juga dibarengi persyaratan efisiensi yang lebih tinggi. CFA-2 merupakan putaran kedua Singapura dalam mengalokasikan kapasitas pusat data yang terbatas kepada operator dengan standar terbaik.
Menurut JPMorgan, kebijakan tersebut justru dapat memperkuat posisi pemilik aset pusat data di Singapura. Pasokan yang tetap langka berpotensi menjaga tarif sewa pada level tinggi.
Dengan biaya pembangunan mencapai sekitar 12 juta dolar AS per MW, pengembangan kembali fasilitas lama juga dinilai menjanjikan. JPMorgan memperkirakan proyek seperti pengembangan fasilitas Singapore 1 milik Keppel DC REIT berpotensi menghasilkan tingkat pengembalian investasi sekitar 7 hingga 8 persen.
Malaysia Melaju dengan Kapasitas Hampir 13 GW
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!