Semau Gue dalam Karya Seni tak Sekadar Semau-maunya
📅 Kamis, 02 Jul 2026, 10:21 WIB | Oleh: Tim PenulisSebuah karya berjudul Arjuna Mencari Cinta (Salinan judul novel Yudhistrra ANM Massardi) lahir dari keprihatinan Ni Made Sri Andani tentang satwa langka Orang Utan, yang mencari cinta orang Indonesia, masuk ke kota Jakarta. Si orang utan memakai kemeja khas Hawaii, berada di jantung kota Jakarta yang diwakili dengan gambar Tugu Selamat Datang.
Sementara itu karya termungil di antara lukisan yang rata-rata berukuran lebih dari 50 cm, bercerita tentang orang-orang yang melanggar lalu lintas, menyeberang di tempat terlarang di depan halte bus. Lukisan Susi Necklin ini bisa luput dari perhatian mengunjung karena selain ukurannya 24 X 27 cm, dengan media aquatint di atas kertas dan letaknya di atas lukisan lain.
Kritik terhadap perilaku sehari-hari, seperti pejalan kaki yang menerobos jalan menuju halte, menunjukkan bahwa "semau gue" juga bisa dibaca sebagai sindiran terhadap kebiasaan Masyarakat atau ego yang mengutamakan kepentingan pribadi dibanding aturan bersama.
Tema lingkungan tetap menarik misalnya karya Liliek Subekti berjudul Warisan yang Tersisa, dalam warna pastel yang lembut dan cantik, bukan suram seperti penggambaran kota tua dan reruntuhan, meskipun menunjukkan rongsokan kota, atau Urban Life karya Rindy Atmoko yang penuh warna pada ikion-ikon urban.arna Warni Kedalaman karya R. Irni Arfianti.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keramaian pembukaan telah usai, kini dinding-dinding berbicara dengan bahasa yang sebenarnya, judul "Semau Gue" tidak lagi terdengar sebagai slogan yang jenaka, melainkan sebagai mengusik pertanyaan “seberapa jauh kebebasan artistik mampu membangun percakapan di antara karya-karya yang berbeda arah ini?
Pemakaian mix media dengan gold leaf pada bundaran matahari senja karya Ar. Soedarto atau campuran warna emas pada wajah perempuaan Betawi karya Nuryanah dan lukisan cat air dengan sapuan kuat karya Nadia Iskandar, Su Lan tetap mengundang kekaguman penikmatnya.
Sedikit seni instalasi dan lukisan 3D yang turut dipamerkan, yaitu karha Gogor Purwoko dengan judul The silent Curve dengan media Styrofoam, karya Shamady Nura, berjudul No Smoking or Devisa pertanyaan klasik dalam kampanye rokok, dan karya Ary Dananjaya Cahyono berjudul “Yang datang sendiri” menggunakan multiplex dan kanvas. Sepintas kamnvas terlihat lebih kecil dibandingkan sosok manusia dalam posisi tidur, terjungkir kepala di bawah. Bagi Ary, kanvas kecil itu mengungkapkan makna bahwa kanvas tidak dapat membatasi suatu karya. Judulnya pun membuk tabir, inspirasi sering datang sendiri dan secara tiva-tiba.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti kata ketua pelaksana pameran Rindy Atmoko, kegiatan pameran untuk memeriahkan HUT DKI Jakarta ini mengundang para perupa untuk merayakan kebebasan berpikir dan berkarya tanpa takut kehilangan arah.
Di tangan para perupa, slogan Semau Gue berubah menjadi pertanyaan yang terus mengemuka, sejauh mana kebebasan artistik mampu melahirkan karya yang bertanggung jawab, jujur, dan tetap membuka ruang dialog dengan publik. Mungkin di situlah "semau gue" menemukan makna yang sesungguhnya. (*)
*) Maria D. Andriana, wartawan dan pelukis
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!