Semau Gue dalam Karya Seni tak Sekadar Semau-maunya
📅 Kamis, 02 Jul 2026, 10:21 WIB | Oleh: Tim PenulisOleh Maria D. Andriana
"Semau Gue" sering dipahami sebagai ungkapan "terserah saya". Namun di ruang seni, kebebasan tidak pernah berhenti pada sikap semaunya sendiri. Ia selalu berhadapan dengan tanggung jawab artistik.
Puluhan karya seni lukis dan seni tiga dimensi menjawab tantangan dalam keragaman konsep, media, teknik dan penyajian dalam pameran bertajuk Semau Gue yang berlangsung di Balai Budaya Jakarta pada 25 Juni hingga 4 Juli 2026.
Pertanyaan yang terselip bagi para perupa, bagaimana memaknai Semau Gue dalam berkarya dengan tetap mengusung tanggung jawab artistik?
Memasuki ruang pamer, di kiri pintu pengunjung akan disuguhi karya berjudul Domestic Issue yang kehadirannya cukup menyedot perhatian selain karena ukurannya (80X90 CM), juga karena warna dominan putih yang menghentak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karya ini menggambarkan tumpukan piring, gelas, cangkir bekas pakai, yang menggunung di zink tempat cuci piring. Pilihan obyek cukup mewakili urusan rumah tangga yang biasa dipandang sepele. Siapa bertanggung jawab mencuci piring?
Syakiep Sungkar pelukisnya menunjukkan teknik yang apik dalam menampilkan peralatan makan porcelain, gelas-gelas kaca, juga logam kran dan bak cuci. Sisa-sisa makanan dan air kopi yang menempel menjelaskan bahwa ada orang yang harus mencucinya, tanpa membuat penonton jijik.
"Hentakan visual dari Domestic Issue segera diredam oleh Tinggal Satu, sebuah karya yang lebih sunyi dan kontemplatif...."
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tinggal Satu” menampilkan sosok perempuan setengah badan yang telungkup mengamati tunas tanaman, satu saja! Lukisan menggunakan media pastel dengan latar biru dongker inin seakan menyerap pandangan, kontras dengan wajah bersih dan lembut sosok perempuannya. Sapuan pastel halus dan rata bisa dilihat dari segala sisi dan di bawah sorotan lampu.
Kontras karya bukan hanya dari warna dan obyek, pameran yang di selenggarakan oleh Perupa Jakarta Raya (Peruja) ini melibatkan para seniman lintas generasi yang masing-masing mengusung aliran dan gaya berbeda.
Kebebasan dan perbedaan usia menjadi tidak penting jika memperhatikan deretan lukisan, sebab selain banyak gaya lukisan konvensional dengan obyek yang masih diminati dan ditekuni para seniman, misalnya gambar bunga, buah, lanskap, ada juga karya karya yang menunjukkan ekspresi.
Dick Syahrir, salah seorang pelukis senior, tampil dengan identitasnya, kanvas yang disayat, dibentuk dan diwarnai. menjadi karya yang khas – satu-satunya seperti itu. Judul pun bukan kata, bukan frasa, hanya penanda, bulan dan tahun pembuatan, Karya 0526.
Mayek Prayitno, salah seorang seniman Peruja dalam katalog pameran menyebut Semau Gue adalaha potret zaman, bicara tentang hasrat, ketidakadilan, kekuasaan dalam wujud korupsi, pelanggaran lalu lintas, kesewenangan penguasa, politik.
Seniman sebagai bagian dari msyarakat mewujudkannya dalam tampilan fakta, kritik yang halus, hingga sindiran bahkan ada juga lelucon.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!