Antiklimaks! Itulah Gambaran Perjalanan Timnas Belanda, Buah Meninggalkan Gaya Permainan Total Football
📅 Rabu, 01 Jul 2026, 17:53 WIB | Oleh: OpikJAKARTA - Sudah 12 kali tampil di Piala Dunia, tetapi tim nasional Belanda belum mampu menjuarainya.
Selalu berhasil melewati babak grup setiap kali tampil di Piala Dunia, prestasi terjauh Belanda adalah menjadi finalis pada tiga edisi, yaitu pada 1974 di Jerman Barat, 1978 di Argentina, dan 2010 di Afrika Selatan.
Di tahun ini, Belanda terhenti di babak 32 besar, sebuah fase gugur baru yang dikenalkan FIFA karena negara peserta yang bertambah menjadi 48 dari 32 tim.
Pencapaian ini adalah sebuah kemunduran untuk Belanda, mengingat pada edisi sebelumnya mereka mencapai perempat final ketika akhirnya disingkirkan Argentina, negara yang akhirnya menjadi juara.
Perbedaan mentalitas
Sebaiknya Anda baca juga:
Antiklimaks. Itulah kata yang tepat menggambarkan perjalanan Belanda di Piala Dunia 2026.
Setelah bermain atraktif dalam tiga laga di Grup F dan berhasil mencetak minimal dua gol setiap laganya, penampilan mereka justru merosot saat memasuki babak gugur.
Maroko, yang datang sebagai runner-up Grup C, menantang Oranye yang berstatus sebagai juara Grup F. Dua-duanya memiliki tujuh poin, dengan dua kemenangan dan satu hasil seri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Singa Atlas, begitulah julukan Maroko, menjadi lawan sepadan Belanda pada babak 32 besar di Stadion Monterrey, Meksiko, Selasa. Di atas kertas, laga ini diprediksi akan berlangsung terbuka dengan jual beli serangan yang memanjakan mata. Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan berbeda.
Maroko datang membawa identitas yang jelas, yang menjadi ciri khas permainan mereka selama ini dengan formasi 4-2-3-1. Sementara Belanda, yang lebih produktif dari Maroko di babak grup, malah kehilangan jati dirinya.
Sang pelatih Ronald Koeman memilih pendekatan yang lebih aman, lebih bermain bertahan, yang bukan "Belanda" sama sekali, yang selama ini dikenal dengan pendekatan "Total Football"-nya.
Formasi 5-2-3 dipilih, dengan pendekatan permainan ini akan berubah menjadi 3-4-3 kala menyerang.
Tijjani Reijnders, yang sebelumnya selalu bermain sebagai starter di lini tengah bersama Frenkie de Jong dan Ryan Gravenberch dalam formasi 4-3-3, dicadangkan Koeman untuk pertama kalinya.
Sebagai gantinya, Koeman memasukkan Nathan Ake sebagai tambahan di barisan pertahanan. Bek Manchester City itu berdiri sejajar dengan Virgil van Dijk dan Jan Paul van Hecke. Micky van de Ven bermain lebih melebar sebagai fullback kiri, sementara di sisi kanan tetap dihuni Denzel Dumfries.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!