Membangkitkan Kembali Legong Keraton Lasem Era 1930 di PKB
📅 Sabtu, 27 Jun 2026, 23:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Denpasar - Komunitas Seni Ni Pollok dari Banjar Kelandis, Desa Sumerta Kauh, Denpasar, Bali, membangkitkan kembali Legong Keraton Lasem era 1930-an di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.
“Komunitas Ni Pollok menghadirkan rekonstruksi Legong Keraton Lasem gaya klasik Kelandis, sebuah pusaka seni yang pernah dipopulerkan penari legendaris Ni Pollok pada era 1930-an,” kata Penata Tari Ida Ayu Gede Sastrani Widiastuti dalam keterangan Disbud Bali di Denpasar, Sabtu.
Pementasan ini menghidupkan kembali gaya tari asli dengan tetap mempertahankan pakem, kekuatan ekspresi, serta penafsiran cerita Raden Panji yang diyakini mendekati bentuk aslinya.
Sosok Rangda yang dimunculkan dalam pementasan Legong Keraton Lasem merupakan simbol puncak kekuatan magis sekaligus kemarahan Raden Inukertapati yang diwujudkan melalui karakter Rangda.
Unsur tersebut semakin memperkuat nuansa mistis sekaligus menghadirkan taksu yang kuat dalam keseluruhan pertunjukan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak tabuh pembuka dimainkan, penonton PKB 2026 yang terdiri atas seniman, budayawan, akademisi hingga wisatawan bertahan di tempat untuk menyaksikan kebangkitan salah satu warisan seni Bali yang lama terpendam itu.
Selain alur cerita, Ida Ayu Sastrani berupaya membuat agar pementasan berhasil menghidupkan kembali teknik tari khas Ni Pollok yang terkenal enerjik namun tetap lentur.
Gerak tubuh yang kuat, bahu yang luwes, langkah kaki ngumbang, seledet yang tajam tanpa berlebihan, hingga teknik nyregseg dan nguntang laras menjadi ciri utama yang berhasil direkonstruksi melalui riset dan dokumentasi arsip.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Koordinator Komunitas Ni Pollok, Kadek Sandra Widari, menjadi sosok penting di balik keberhasilan ini, ia pernah menerima pelatihan langsung dari Ni Pollok semasa hidup, kemudian memperkuat pemahaman teknik tari melalui dokumentasi video serta penelitian mendalam sehingga karakter asli sang maestro dapat dihadirkan kembali di atas panggung,” ujar Ida Ayu Sastrani.
Pementasan diawali tabuh pembuka, dilanjutkan penampilan barong dan tabuh karawitan, sebelum ditutup dengan rekonstruksi Legong Keraton Lasem khas Kelandis.
Upaya pelestarian kesenian ini mendapat apresiasi dari maestro seni sekaligus Kurator PKB 2026 Prof. Dr. I Made Bandem.
Menurutnya, rekonstruksi itu menjadi capaian penting dalam mengembalikan estetika legong klasik tanpa menghilangkan nilai sakral yang melekat di dalamnya.
"Mereka berhasil merekonstruksi dan merevitalisasi Legong Klasik Lasem Kelandis, gayanya sudah kembali pada gaya tahun 1930-an, selamat kepada para penari maupun penabuh yang telah menghidupkan kembali warisan seni ini," ucapnya.
Menurut Prof Bandem, keistimewaan Legong Kerator Lasem khas Kelandis terletak pada bagian penutup pertunjukan, berbeda dengan Legong Lasem pada umumnya yang diakhiri dengan kemunculan tokoh Garuda atau struktur gedong, versi Kelandis justru menghadirkan sosok Rangda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!