Lestari Moerdijat: Perkuat Sistem Pendidikan Nasional Berdasarkan Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara
📅 Kamis, 25 Jun 2026, 18:55 WIB | Oleh: SriyonoJAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya penerapan ajaran Tri Pusat Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara untuk memperkuat sistem pendidikan nasional (sisdiknas).
Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara MPR RI bertema Menghidupkan Kembali Tri Pusat Pendidikan, bersama Institut Sarinah di ruang Delegasi, Gedung Nusantara IV, Kompleks DPR/MPR/DPD RI Senayan, Jakarta, Kamis (25/6).
Pada kesempatan itu, Lestari menekankan bahwa pembahasan mengenai Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang sedang berjalan harus dikembalikan pada pemikiran-pemikiran besar kebangsaan, terutama yang digagas oleh Bapak Pendidikan Indonesia.
Dalam sambutannya, Rerie, sapaan akrab Lestari, menyoroti bahwa diskusi mengenai pendidikan seringkali terjebak pada aspek nomenklatur dan administrasi, sehingga kehilangan esensi filosofisnya.
Rerie menekankan pentingnya membawa isu pendidikan ke dalam tataran yang lebih dalam, yaitu jiwa dari pendidikan itu sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal ini selaras dengan konsep Tri Pusat Pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara yang menekankan sinergi tiga lingkungan utama dalam mendidik anak yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Menurut Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, pemikiran Ki Hajar Dewantara menjadi semakin relevan di tengah dinamika pendidikan saat ini.
Rerie menyoroti bahwa model pendidikan tidak bisa hanya berfokus pada metode mengajar, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang mendukung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ajaran Tri Pusat Pendidikan mengingatkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada di pundak guru dan sekolah, melainkan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Rerie mengkritisi sejumlah praktik yang telah berlangsung dalam sistem pendidikan, salah satunya adalah pemaknaan yang keliru mengenai keterlibatan orang tua.
Ia mengingatkan bahwa keterlibatan orang tua bukan sekadar kehadiran fisik dalam setiap kegiatan sekolah, melainkan pemahaman mendalam tentang substansi pendidikan anak.
"Pemahaman mendalam ini merupakan salah satu aspek penting dalam lingkungan keluarga sebagai pusat pendidikan pertama dan utama," ujar Rerie.
Selain itu, Rerie juga menyoroti belum adanya pemikiran yang mendalam mengenai kebudayaan dalam proses pembahasan sistem pendidikan.
Menurutnya, kebudayaan sebagai hasil karya pikiran dari proses belajar mengajar harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!