Memperkuat Pengelolaan Sampah Lewat Kerja Sama Internasional
📅 Rabu, 17 Jun 2026, 23:28 WIB | Oleh: Tim PenulisAmbon - Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, Maluku, menggandeng sejumlah mitra nasional dan internasional untuk mengembangkan inovasi pengelolaan sampah plastik berbasis masyarakat melalui suatu proyek penelitian.
“Kerja sama lintas sektor tersebut diperlukan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan, terutama persoalan persampahan yang masih dihadapi Kota Ambon,” kata Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena, di Ambon, Rabu.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan pelaksanaan Kick-off Meeting dan Stakeholder Coordination Meeting yang berlangsung di Ruang Rapat Vlissingen, Balai Kota Ambon.
Proyek penelitian bertajuk Advancing an Equitable and Just Energy Transition in Ambon through Community-Based Waste Innovation and Inclusive Education itu melibatkan berbagai pihak, di antaranya Universitas Katolik Soegijapranata, Macquarie University, Politeknik Negeri Ambon, Institut Tifa Damai Maluku, serta sejumlah organisasi masyarakat dan komunitas lokal.
“Kami meyakini bahwa tantangan yang dihadapi saat ini sangat besar. Tidak ada satu pihak pun yang mampu bekerja sendiri. Karena itu dibutuhkan kerja bersama dan dukungan dari berbagai pihak agar persoalan yang ada dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Bodewin, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kota Ambon masih masuk dalam kategori daerah dalam pembinaan terkait pengelolaan sampah. Karena itu, pemerintah kota terus melakukan pembenahan melalui peningkatan infrastruktur, pengadaan armada pengangkut sampah, serta penguatan sumber daya manusia di sektor persampahan.
Ia menjelaskan, fokus utama proyek tersebut adalah pengembangan inovasi pengelolaan sampah plastik berbasis masyarakat, pendidikan lingkungan yang inklusif, serta tata kelola yang mendukung transisi energi berkeadilan.
Pemkot Ambon juga berencana mulai menerapkan teknologi pengelolaan sampah melalui fasilitas Material Recovery Facility (MRF) dan Refuse Derived Fuel (RDF) untuk mengubah sampah menjadi sumber energi terbarukan seperti briket.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan volume sampah yang mencapai sekitar 250 ton per hari, Bodewin mengakui pemerintah daerah tidak bisa hanya mengandalkan sistem pengangkutan dan pembuangan konvensional.
“Kalau hanya menampung, mengangkut, dan membuang ke TPA, kita hanya memindahkan masalah. Karena itu diperlukan inovasi pengelolaan sampah dari sumbernya agar persoalan dapat ditangani secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga mendorong keterlibatan dunia pendidikan, khususnya Politeknik Negeri Ambon, untuk mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang dapat diterapkan langsung di kawasan permukiman masyarakat.
Melalui penelitian kolaboratif tersebut, Pemkot Ambon berharap dapat menghasilkan dokumen komprehensif yang memetakan persoalan persampahan secara akurat sekaligus menawarkan solusi jangka panjang yang aplikatif bagi pengelolaan sampah di Kota Ambon.
Kegiatan kick-off meeting digelar untuk menyelaraskan arah implementasi program, memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan, serta meneguhkan komitmen kolaborasi sejak tahap awal pelaksanaan program.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!