Kenaikan BBM Nonsubsidi Ancam Inflasi, Ekonom Minta Pemerintah Siapkan Stimulus
📅 Selasa, 16 Jun 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi karena mendorong naiknya biaya transportasi dan logistik. Kondisi tersebut dapat berdampak pada meningkatnya biaya distribusi barang yang kemudian memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok serta menekan daya beli masyarakat.
Merespons potensi dampak tersebut, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mendorong pemerintah menyiapkan stimulus yang tepat sasaran guna menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan menengah yang rentan terdampak kenaikan harga.
Menurut Yusuf, bantuan tunai dapat menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan apabila tekanan inflasi akibat kenaikan harga BBM mulai dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas.
“Bantuan tunai tetap dapat menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin (15/6).
Ia menjelaskan kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya transportasi dan logistik yang pada akhirnya mendorong kenaikan biaya distribusi barang. Kondisi tersebut berpotensi merembet ke harga berbagai kebutuhan pokok dan memicu inflasi yang dirasakan masyarakat secara lebih luas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Yusuf menilai sektor yang paling terdampak adalah industri yang memiliki konsumsi energi tinggi dan sangat bergantung pada distribusi, seperti manufaktur, logistik, dan transportasi barang.
"Kenaikan harga BBM akan langsung meningkatkan biaya operasional mereka. Dalam jangka pendek, ruang untuk melakukan efisiensi biasanya terbatas sehingga margin usaha tertekan," ujarnya.
Menurut dia, apabila kenaikan harga BBM berlangsung signifikan atau terjadi berulang, sebagian pelaku usaha kemungkinan akan meneruskan beban biaya tersebut kepada konsumen melalui penyesuaian harga barang dan jasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, ia menilai kebijakan stimulus harus dirancang secara hati-hati agar benar-benar menjangkau kelompok yang terdampak dan tidak membebani anggaran negara secara berlebihan. Selain bantuan tunai, pemerintah juga perlu menjaga stabilitas pasokan dan harga BBM subsidi, memperkuat pengawasan harga kebutuhan pokok, serta memberikan dukungan yang lebih selektif kepada sektor angkutan dan logistik.
"Dengan pendekatan yang terarah, dampak ekonomi dari kenaikan harga BBM non-subsidi dapat dikelola dengan lebih efektif," kata Yusuf.
Senada dengan itu, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengatakan pemerintah bersama DPR tengah mengkaji skema stimulus sebagai langkah mitigasi dampak kenaikan harga BBM jenis Pertamax.
"Sudah didiskusikan (dengan pemerintah), sedang dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif sektor," kata Misbakhun di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Menurut Misbakhun, kenaikan harga BBM umumnya akan diikuti oleh peningkatan inflasi, meskipun pemerintah masih menghitung besaran dampaknya terhadap perekonomian.
Efiensi Penggunaan Energi
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!