Mengakali Sinyal “Eat-Me”: Langkah Baru Menumbuhkan Organ Donor dari Spesies Lain
📅 Kamis, 13 Agu 2026, 07:28 WIB | Oleh: Haryo BronoUPAYA mengembangkan organ dari satu spesies di dalam tubuh spesies lain mendapat perhatian besar karena salah satu penghalang penting ternyata berasal dari sistem kekebalan bawaan. Sistem tersebut dapat menghancurkan sel donor sebelum sel tersebut sempat berkembang dan membentuk jaringan.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Cell pada 5 Juni 2026, Sicong Wang dan tim mengidentifikasi mekanisme yang mereka sebut xenophagocytosis. Mekanisme ini terjadi ketika makrofag pada embrio inang mengenali dan kemudian memakan sel donor dari spesies berbeda. Akibatnya, sel donor yang sebenarnya masih hidup gagal bertahan dan berkontribusi secara optimal terhadap perkembangan organ.
“Temuan ini mengungkap penghalang imun bawaan yang sebelumnya belum dikenali dalam pembentukan chimera antarspesies,” tulis Wang dan tim dalam penelitian mereka. Para peneliti menyebut penghalang tersebut sebagai salah satu mekanisme yang membantu mempertahankan batas antarspesies selama perkembangan embrio.
Temuan tersebut penting karena salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan untuk mengatasi kekurangan organ donor adalah menghasilkan organ dari sel suatu spesies di dalam tubuh spesies lain.
Ketika Sel Donor “Dimakan” Sistem Imun
Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian dalam penelitian regeneratif adalah interspecies blastocyst complementation. Secara sederhana, metode ini berusaha memanfaatkan kemampuan sel punca dari spesies donor untuk mengisi ruang perkembangan organ tertentu pada embrio spesies inang.
Gagasan tersebut menarik untuk pengembangan organ karena secara teoritis memungkinkan peneliti mengarahkan sel donor untuk membentuk organ yang dibutuhkan di dalam organisme lain. Namun, proses ini masih menghadapi berbagai hambatan biologis.
Sel dari spesies berbeda tidak selalu dapat berkembang bersama dengan mudah. Selain perbedaan waktu perkembangan, kemampuan sel untuk berinteraksi dan bersaing juga berbeda. Sistem kekebalan inang dapat mengenali sel donor sebagai sesuatu yang asing dan menghancurkannya.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa salah satu penghalang itu terjadi sangat awal dalam perkembangan embrio. Makrofag, jenis sel kekebalan yang antara lain berfungsi membersihkan sel atau material yang dianggap bermasalah, ternyata dapat secara selektif mengeliminasi sel donor dari spesies lain. Proses inilah yang diberi nama xenophagocytosis.
Sinyal “Makan Saya” pada Sel Donor
Peneliti kemudian mencoba memahami mengapa sel donor lebih mudah menjadi sasaran makrofag. Mereka menemukan adanya peningkatan phosphatidylserine pada permukaan sel donor. Molekul tersebut dapat berfungsi sebagai sinyal “eat-me” atau tanda yang memberi tahu sel kekebalan bahwa sebuah sel perlu ditelan.
Dalam mekanisme yang ditemukan, sinyal tersebut dikenali oleh reseptor Axl pada makrofag. Dengan kata lain, masalahnya bukan semata-mata karena sel donor berasal dari spesies berbeda. Sel tersebut juga membawa sinyal permukaan yang membuatnya lebih mudah dikenali dan dieliminasi oleh sistem pertahanan tubuh inang.
Jika proses penghancuran tersebut dapat dicegah, sel donor mungkin memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup, berkembang biak, dan berkontribusi pada pembentukan jaringan atau organ.
Tiga Strategi untuk Hambatan Imun
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!