Komikus Asal Bantul Apriyadi Kusbiantoro dari Hobi Masa Kecil, Taklukkan Industri Komik Internasional
📅 Minggu, 07 Jun 2026, 18:28 WIB | Oleh: Opik"Teman SMP dulu ingin dibuatkan tokoh superhero yang bisa berubah warna karena dia punya mainan mobil termokromik yang bisa berganti warna," kenangnya.
Dari ide sederhana itu, lahirlah komik setebal 36 halaman dengan tokoh utama yang mampu berkamuflase menggunakan kostum berbahan termokromik. Setahun kemudian, pada 1995, komik tersebut resmi diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kini, edisi cetak Bunglon telah menjadi barang koleksi yang cukup langka.
Ironisnya, Apri sendiri tidak memiliki satu pun salinan fisik dari komik pertamanya itu. Ia bahkan mengaku sempat merasa malu ketika para kolektor memperlihatkan komik tersebut untuk dimintai tanda tangan.
"Tapi kolektor komik justru senang, mereka bangga menunjukkan komik itu kepada saya untuk ditandatangani," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski sempat menerbitkan karya, industri komik Indonesia pada akhir 1990-an mulai mengalami kemunduran. Demi menyelesaikan pendidikan dan memenuhi kebutuhan hidup, Apri memilih beralih ke dunia desain grafis dan animasi. Profesi inilah yang kemudian menjadi sumber penghasilan utamanya selama bertahun-tahun.
Titik balik menuju industri komik internasional
Karier Apri di dunia desain grafis dan animasi memang berjalan mulus. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai merasakan kejenuhan. Selain itu, karya-karyanya untuk industri periklanan jarang memperkenalkan namanya secara langsung kepada publik karena sebagian besar dikerjakan di balik layar sebagai ghost artist.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya pernah bilang ke ibu kalau iklan di televisi itu hasil karya saya. Tapi ibu bertanya, bagaimana dia bisa tahu kalau itu buatan saya," katanya.
Pengalaman itu memunculkan keinginan untuk kembali ke dunia komik. Sekitar tahun 2007, ia mulai mencari peluang menjadi ilustrator komik Amerika melalui berbagai forum dan platform daring.
Usahanya tidak langsung membuahkan hasil. Setelah bertahun-tahun mengirimkan portofolio dan membangun relasi, kesempatan pertama akhirnya datang pada 2011. Seorang penulis dari Amerika Serikat tertarik pada gaya gambarnya dan mengajak Apri berkolaborasi. Hasilnya adalah komik Three Stooges yang diterbitkan Bluewater Productions pada 2012.
"Jadi saya mulai mencari sejak 2007, baru dapat proyek pada 2011 dan masuk proses produksi," ujarnya.
Nama Apri perlahan mulai diperhitungkan di industri komik Amerika. Pada tahun yang sama, penerbit raksasa Dark Horse Comics mempercayainya untuk mengilustrasikan komik pendek berjudul Radio Gaga. Proyek-proyek lain pun mulai berdatangan. Namun, tuntutan tenggat waktu (deadline) yang ketat memaksanya membagi fokus antara dunia animasi dan komik.
Di tengah kesibukan ganda itu, muncul tantangan baru yang sebenarnya telah menjadi impian masa kecilnya: menembus pasar komik Eropa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!