Rupiah Hari Ini Melemah Lagi, Bayang-Bayang Konflik Timteng Menghantui Pasar
📅 Kamis, 13 Agu 2026, 19:36 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan rupiah menunjukkan tingginya sensitivitas pasar domestik terhadap ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, terutama eskalasi terkait Iran dan Selat Hormuz yang berpotensi mengerek harga energi global.
Kondisi tersebut mendorong investor meningkatkan aset safe haven dolar AS, sementara risiko kenaikan harga minyak dapat menekan neraca eksternal dan memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan, Kamis (13/8), bergerak melemah 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.879 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.877 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan rupiah melemah karena masih menghadapi tekanan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah (Timteng).
“Rupiah masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama perkembangan terkait Iran dan Selat Hormuz yang berpotensi mempengaruhi pasokan serta harga energi,” ucapnya di Jakarta, Kamis (13/8).
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengutip Anadolu, Iran memberikan enam syarat yang harus dipenuhi AS agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali.
Mulai dari mengakhiri ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran, menghentikan secara permanen aksi militer terhadap Iran dan sekutu-sekutunya di kawasan, menarik seluruh kekuatan laut dan udara AS yang terlibat dalam blokade terhadap Iran, memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami Teheran selama konflik baru-baru ini, mencabut sanksi AS, serta membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan.
Iran sendiri tengah menyiapkan rancangan undang-undang yang melarang kapal militer dan komersial dari negara yang dianggap "musuh" memasuki Selat Hormuz tanpa persetujuan Teheran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sentimen lain berasal dari rilis indeks harga konsumen (CPI/Consumer Price Index) AS bulan Juli yang naik 0,1 persen secara bulanan, dan 3,4 persen secara tahunan. Kedua angka tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang fluktuatif, meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan. Tingkat inflasi tahunan, baik untuk inflasi umum maupun inflasi inti, sedikit melandai dibandingkan bulan Juni.
Menyusul rilis data tersebut, pasar uang meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga kebijakannya pada pertemuan bulan September.
Fed Fund Futurues memperhitungkan probabilitas sekitar 60 persen bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75 persen, dibandingkan dengan prediksi pada pekan sebelumnya, yaitu di atas 45 persen.
“Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan peluang penguatan terbatas di kisaran Rp17.750 - Rp17.850 per dolar AS,” ungkap Amru.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!