Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Komikus Asal Bantul Apriyadi Kusbiantoro dari Hobi Masa Kecil, Taklukkan Industri Komik Internasional

9 Minggu, 07 Jun 2026, 18:28 WIB | Oleh:
Komikus Asal Bantul Apriyadi Kusbiantoro dari Hobi Masa Kecil, Taklukkan Industri Komik Internasional Komikus Asal Bantul Apriyadi Kusbiantoro dari Hobi Masa Kecil, Taklukkan Industri Komik Internasional Doc: ANTARA/Agung Dwi Prakoso.
Ket. Komikus asal Bantul yang karyanya mendunia, Apriyadi Kusbiantoro tengah menggambar tokoh dalam salah satu komik yang sedang ia garap di meja kerjanya, Bantul, Yogyakarta, Jumat (5/6).

YOGYAKARTA - Di balik kesederhanaan sebuah rumah di Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Bantul, tersimpan jejak prestasi yang mendunia. Belasan lukisan dan sampul komik menghiasi dinding, menandai asal-usul karya-karya yang kini telah merambah pasar Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan seluruh penjuru Eropa.

Pemilik rumah itu adalah Apriyadi Kusbiantoro (50), seorang komikus senior Bantul yang sukses menaklukkan industri komik internasional. Kisahnya berawal dari hobi masa kecil yang dulu kerap diremehkan, tapi kini telah membuahkan hasil nyata.

Saat memasuki rumahnya, suasana seni langsung terasa. Berbagai Ilustrasi karakter dan sampul buku di dinding bukan sekadar hiasan, melainkan monumen perjalanan karier selama puluhan tahun. Di sudut ruang kerja mungil berukuran lima meter persegi, tumpukan kertas, kuas, dan cat air tetap setia menemani proses kreatifnya yang tak pernah padam.

Bagi Apri, sapaan akrabnya, karya-karya yang terpajang itu bukan sekadar dekorasi. Semua menjadi semacam lini masa yang mengingatkannya pada perjalanan panjang dari seorang anak yang gemar mencoret-coret buku pelajaran hingga menjadi ilustrator komik yang dikenal di mancanegara.

Dimarahi orangtua karena buku tulis penuh gambar

Kecintaan Apri terhadap komik telah tumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Namun, kegemaran itu tidak selalu mendapat restu orang tuanya. Apri masih ingat jelas bagaimana buku-buku pelajarannya lebih banyak dipenuhi coretan gambar daripada catatan pelajaran. Hal ini kerap memicu kemarahan orang tuanya.

"Waktu SD, orang tua saya sering kesel melihat buku tulis saya yang penuh gambar dibandingkan catatan pelajaran," ujar Apri saat ditemui wartawan di kediamannya, Jumat (5/6).

Kini, Apri memahami alasan di balik kemarahan tersebut. Pada masa itu, menggambar sering kali dipandang sebagai hobi yang tidak menjanjikan masa depan. Terlebih, sebagian besar waktunya habis untuk membaca komik, bukan belajar. Menurut Apri, pandangan masyarakat saat itu sangat berbeda dengan kini. Membaca komik bahkan sering dianggap dapat menurunkan kecerdasan akademis anak.

"Karena kala itu orang tua di sekitar saya menganggap kepintaran hanya didapat dari buku pelajaran," katanya.

Berbagai komik Amerika dan Eropa menjadi teman setia masa kecilnya. Karakter seperti Batman, Superman, Captain America, hingga Storm dan Tintin mengisi hari-harinya. Koleksi komik tersebut sebagian besar berasal dari kakaknya yang gemar membeli dan menyewa buku komik.

"Saya nebeng di situ, jadi punya privilege dari kakak, walaupun memang orang tua tidak suka," ujarnya sambil tertawa.

Dari kegemaran membaca itulah muncul keinginan untuk menciptakan komik sendiri. Saat duduk di bangku SMP, ia mulai membuat cerita lengkap dengan ilustrasinya. Namun, tidak satu pun berhasil diselesaikan karena masih sebatas sarana menyalurkan hobi.

Komik pertama yang terbit di Balai Pustaka

Kesempatan untuk menyelesaikan sebuah komik akhirnya tiba saat Apri menjadi mahasiswa semester pertama Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Yogyakarta pada 1994. Ia menciptakan komik berjudul Bunglon, yang terinspirasi dari ide seorang teman SMP. Teman tersebut berimajinasi tentang sosok pahlawan super dengan kemampuan berubah warna.

"Teman SMP dulu ingin dibuatkan tokoh superhero yang bisa berubah warna karena dia punya mainan mobil termokromik yang bisa berganti warna," kenangnya.

Dari ide sederhana itu, lahirlah komik setebal 36 halaman dengan tokoh utama yang mampu berkamuflase menggunakan kostum berbahan termokromik. Setahun kemudian, pada 1995, komik tersebut resmi diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kini, edisi cetak Bunglon telah menjadi barang koleksi yang cukup langka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
Daerah
Malam Ini Hujan Abu Vulkani...
Ekonomi
Validitas Data Pertumbuhan ...
Olahraga
Napoli Memutus Rentetan Kem...
Advertisement
Jakarta National Championship Pencak Silat 2026: Ajang Cetak Bibit Unggul Pesilat Muda

Jakarta National Championship Pencak Silat 2026: Ajang Cetak Bibit Unggul Pesilat Muda

08 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.