Mimpi “Entrepreneur” Muda, Irvan Mulyadi Praminta Bawa Malacca Toast “Go Global”
📅 Kamis, 28 Mei 2026, 05:46 WIB | Oleh: Vitto Budi
Doc: istimewa
MUDA, energik dan inspiratif, kesan pertama Koran Jakarta, saat wawancara dengan sosok Irvan Mulyadi Praminta, entrepreneur muda yang menjadi kreator perusahaan Food and Beverage (F&B) ternama, Malacca Toast. Setelah enam kali gonta-ganti brand (merek dagang), pada 2017, dia mengenalkan “Malacca Toast”,salah satu perusahaan waralaba (franchise) F&B yang kini mewarnai berbagai pusat keramaian.
Berkat tangan dingin Irvan, “Malacca Toast” kini berkembang pesat menjadi 28 titik penjualan (outlet), sebagian besar tersebar di wilayah Jabodetabek. Dua outlet sudah hadir di Kalimantan dan Sumatera yakni di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan Kota Pekanbaru, Riau.
Ketertarikan Irvan ke bisnis pengolahan, penyajian dan penjualan kuliner itu, awalnya terinspirasi dari ayahnya yang sudah menekuni bisnis makanan dan minuman sejak 2013. Dari sana, dia termotivasi menggeluti bisnis tersebut dengan berencana mengambil jurusan Tata Boga di bangku kuliah. Namun, keluarga menyarankan memilih jurusan lain dengan dalih Irvan anak sulung laki-laki dari tiga bersaudara, dua adiknya adalah perempuan. Irvan pun akhirnya lulus kuliah dari Curtin University Singapore jurusan Marketing dan Advertising.
Justru di bangku kuliah, idenya membangun bisnis restoran semakin kuat. Dia ingin memiliki kedai kopi modern yang menyajikan menu makanan bukan yang baru seperti Western Food, Chinese Food atau Japanese Food, tetapi menu yang familiar disantap, terutama selera peranakan yang sesuai dengan lidah Indonesia. Selera peranakan itulah yang menginspirasi lahirnya brand Malacca.
“Dengan menyajikan menu selera peranakan, kita tidak pusing konsepnya mau diarahkan ke mana dan tidak perlu ganti konsep. Selera peranakan sesuai cita rasa Indonesia, dan lebih mudah disesuaikan, kalau di Jawa, customer lebih doyan manis, sedangkan di Kalimantan mungkin lebih suka asin,” urai Irvan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam menekuni bisnis F&B aku Irvan, tentu sangat challenging (menantang), mulai dari pemilihanbrand, produksi, menu yang ditawarkan hingga harga yang kompetitif sesuai dengan kemampuan kantong customer.
“Ketika memilih nama brand, orang harus tahu apa yang kita jual, Saat menyebut “Malacca Toast”, customer langsung terbayang bukan sekedar tempat jualan kopi di kedai modern, tapi juga ada roti bakar, dan mereka tahu roti bakarnya juara,” papar Irvan.
Begitu pun dengan penetapan harga jual, dia mengaku tetap memerhatikan kemampuan dan kepuasan customer. “Konsumen nggak masalah keluar duit lebih dibanding makan di rumah, asalkan menu yang disantap lebih enak,” terang Irvan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk menjaga supaya customer tetap loyal, perusahaan melalui tim Research and Development (R&D) senantiasa berinovasi agar produk-produk yang ditawarkan lebih bervariasi. Dalam pelaksanaannya, riset tetap fokus ke makanan yang familiar seperti nasi lemak yang sedikit mirip nasi uduk, mi kari yang mirip kari medan dan salah satu menu yang sedang diuji coba saat ini yaitu cireng.
“Tim R&D kami, bukan create menu baru, melainkan imajinasi ulang makanan zaman dulu yang sudah ada dan punya ciri khas selera peranakan, mudah diterima lidah Indonesia. Menu akan dites dengan melihat respon dari konsumer, untuk mendapatkan produk baru rata-rata yang rata-rata punya cycle enam bulan,” jelas Irvan.
Transformasi ke Digital
Pria berusia 33 tahun itu juga mengaku mengalami titik nadir bisnis F&B saat pandemi Covid-19,pada 2020 lalu. Kebijakan Pemerintah seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level satu sampai empat, betul-betul memukul penjualan. Tidak ada pilihan lain, terpaksa merumahkan karyawan, meskipun seiring pelonggaran, sistem shift diberlakukan secara perlahan untuk menjaga jarak di restoran.
Namun demikian, dibalik dari krisis itu, mulai terjadi pergeseran dan perubahan perilaku customer yang begitu cepat dengan beralih ke digital. Transformasi dari konvensional ke digital itu, menuntut penyesuaian sistem dan layanan kerja perusahaan agar tetap survive dan sustainable (berkelanjutan).
“Bisnis F&B itu, kuncinya harus resilience (ketahanan), cepat merespons perubahan pasar serta tren konsumen (adaptif), inovatif dan efisien. Makanya, data statistik menunjukkan perusahaan F&B, sekitar 80 persen gagal di tahun kedua dan hanya 20 persen yang lolos dan bisa bertahan,” ungkap Irvan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!