Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengenal Bursa Karbon, Saat Hutan dan Emisi Punya Nilai Ekonomi Baru

📅 Rabu, 20 Mei 2026, 10:42 WIB | Oleh:
Mengenal Bursa Karbon, Saat Hutan dan Emisi Punya Nilai Ekonomi Baru Doc: Antara.
Ket. Ilustrasi - Logo bursa karbon atau IDX Carbon.

JAKARTA – Bursa karbon dinilai bisa jadi peluang baru bagi daerah untuk mendapatkan nilai ekonomi tanpa harus mengorbankan lingkungan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan lewat mekanisme ini, daerah yang memiliki hutan, mangrove, atau proyek energi bersih dapat menghasilkan kredit karbon yang kemudian diperdagangkan kepada perusahaan yang ingin menekan emisi mereka.

"Sebenarnya bursa karbon ini belum sampai ke ritel atau individu, melainkan lebih ke institusi di pasar karbon. Tapi edukasi mengenai ini terus kami sebarluaskan agar banyak yang memahami tentang bursa karbon," ujar Kepala Direktorat Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Bayu Samodro di Bandarlampung, Lampung, Selasa (20/5).

Seperti diketahui, bursa karbon di Indonesia sudah berjalan melalui platform Bursa Efek Indonesia bernama IDXCarbon yang resmi diluncurkan pada September 2023.

Perdagangan karbon ini memungkinkan perusahaan membeli dan menjual kredit karbon sebagai bagian dari upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

Hingga awal 2026, aktivitas perdagangan karbon domestik terus berlangsung meski skalanya masih relatif kecil. OJK mencatat nilai transaksi bursa karbon mencapai sekitar Rp91,87 miliar dengan partisipasi lebih dari 150 pengguna jasa hingga Februari 2026.

Namun, implementasinya masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti: likuiditas transaksi yang belum tinggi, jumlah proyek karbon yang masih terbatas, infrastruktur registri karbon yang masih dikembangkan, serta perlunya sinkronisasi regulasi lintas sektor.

Di sisi lain, pemerintah dan OJK terus memperkuat ekosistem pasar karbon agar Indonesia bisa menjadi pemain utama perdagangan karbon regional, terutama dengan besarnya potensi karbon dari sektor kehutanan, mangrove, dan energi terbarukan.

Mekanisme Kerja

Bursa karbon bekerja seperti pasar jual beli “izin emisi” atau kredit pengurangan karbon. Mekanismenya memungkinkan perusahaan yang menghasilkan emisi tinggi membeli kredit karbon dari pihak yang berhasil mengurangi atau menyerap emisi gas rumah kaca.

Secara sederhana, alurnya seperti ini:

Pertama, Ada proyek pengurang emisi. Misalnya proyek hutan mangrove, energi terbarukan, atau pembangkit biodiesel yang mampu menurunkan emisi karbon. Pengurangan emisi tersebut kemudian dihitung dan diverifikasi.

Kedua, terbit kredit karbon. Setelah diverifikasi, proyek mendapat sertifikat kredit karbon. Umumnya, 1 kredit karbon setara dengan pengurangan 1 ton emisi CO₂.

Ketiga, diperdagangkan di bursa karbon. Kredit karbon itu kemudian dijual di bursa karbon kepada perusahaan lain yang ingin: memenuhi target emisi, menjalankan komitmen ESG, atau mengompensasi emisi yang belum bisa ditekan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Menbud Ungkap Jadwal Terbit Buku Sejarah Baru

27 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Menbud Ungkap Jadwal Terbit...

Woody Kembali Beraksi di Film “Toy Story 5

46 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Woody Kembali Beraksi di Fi...
Nasional
Kementan Ungkap Produksi Su...
Rona
Joe Taslim Turut Berperan d...
Daerah
PT KAI: Volume Penumpang St...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

17 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.