Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kampoeng Rajoet di Bandung Hadirkan Inovasi Ramah Lingkungan

📅 Rabu, 12 Agu 2026, 17:35 WIB | Oleh:
Kampoeng Rajoet di Bandung Hadirkan Inovasi Ramah Lingkungan  Doc: Humas Kota Bandung

BANDUNG – Upaya mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai terus dikembangkan di Kampoeng Rajoet, Kampung Wisata Kreatif Binong Jati. Melalui inovasi pengolahan sampah anorganik, khususnya botol plastik, masyarakat di kawasan tersebut mengubah limbah menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai benang.

Pegiat Lingkungan Hidup Kelurahan Binong sekaligus bagian dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Wawan Setiawan, mengatakan inovasi tersebut lahir dari kepedulian terhadap persoalan sampah di lingkungan sekitar. Botol plastik yang berasal dari aktivitas masyarakat dikumpulkan dan ditampung untuk kemudian diolah kembali.

“Karena kita ada di Kota Bandung, kebetulan di kewilayahan kita itu lagi menata lingkungan. Memang lagi viralnya kita Bandung itu memang lagi darurat sampah. Jadi kita bisa olah, terutama bekas botol minuman yang biasanya dibuang pengunjung, kita tampung di rumah botol, kita olah lagi, kita cacah lagi,” ujar Wawan.

Proses pengolahan dimulai dari pengumpulan dan pemilahan botol plastik, kemudian dilanjutkan dengan pencacahan menggunakan mesin pengolah. Dari proses tersebut, sampah plastik diolah menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai benang.

Menurut Wawan, proses pengolahan botol plastik hingga menjadi bahan tersebut membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Inovasi ini menjadi salah satu upaya Pokdarwis untuk mengolah sampah anorganik agar memiliki manfaat dan nilai guna baru.

“Ini inovasi dari Pokdarwis untuk bisa mengolah sampah anorganik menjadi lebih bermanfaat,” tutur dia.

Selain mengurangi sampah yang berakhir sebagai limbah, pengolahan tersebut juga memberikan nilai ekonomi. Wawan menyebut, sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Upaya pengelolaan sampah tersebut juga dilakukan melalui bank sampah. Dalam prosesnya, berbagai jenis sampah dipilah, mulai dari kardus hingga plastik. Khusus botol plastik yang dapat diolah melalui inovasi tersebut, pengurangan sampah mencapai sekitar 100 kilogram per bulan, berdasarkan penjelasan Wawan.

Wawan mengatakan, penerimaan masyarakat terhadap program pengelolaan sampah pada awalnya tidak selalu berjalan mudah. Sosialisasi mengenai pengelolaan sampah masih menghadapi pro dan kontra, salah satunya karena keterbatasan sumber daya manusia. Namun, hasil nyata dari inovasi tersebut perlahan mendorong masyarakat untuk ikut mendukung.

“Kalau kita sosialisasi ke masyarakat itu memang susah menyadarkan masyarakat. Tapi kalau diperlihatkan dengan hasil karya kita, ternyata semuanya sekarang sudah mulai mendukung,” kata dia.

Menurut dia, munculnya nilai ekonomi dari pengolahan sampah turut membuat masyarakat semakin tertarik untuk terlibat. Konsep tersebut kemudian mendorong penerapan ekonomi sirkular, ketika limbah yang sebelumnya tidak terpakai dapat kembali dimanfaatkan dan memiliki nilai.

Ke depan, Wawan berharap inovasi pengolahan sampah di Kampoeng Rajoet dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kota Bandung dalam menghadapi persoalan persampahan.

“Semoga dengan hasil karya kita, Kampung Wisata Kreatif Rajad Binong Jati ini, dengan inovasinya, pengolahan sampah organik, dari botol plastik menjadi benang, menjadikan inspirasi untuk Kota Bandung,” ucap dia.

Melalui inovasi tersebut, Kampoeng Rajoet tidak hanya dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas kerajinan rajut, tetapi juga sebagai ruang yang mendorong pemanfaatan kembali sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Dari botol plastik yang semula menjadi limbah, lahir bahan baru yang dapat kembali dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi karya. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Olahraga
Indonesia Imbang Lawan Mala...

Penataan dan Penertiban Kabel Utilitas di Jakarta

35 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan dan Penertiban Kab...
Daerah
Calon Pekerja Migran Bali B...
Advertisement
FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

28 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.