Ekonomi Global Sedang Tak Baik-Baik Saja, Ini Penjelasan Ekonom Bank Mandiri
📅 Senin, 11 Mei 2026, 19:20 WIB | Oleh: Tim PenulisBerikutnya yaitu sentimen risk-off mendorong depresiasi rupiah, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), dan tekanan terhadap bursa saham. Terakhir adalah risiko meningkatnya suku bunga (market rate), serta terbatasnya penerimaan ekspor di tengah tingginya impor.
Dalam keadaan ini, Indonesia berpeluang memperoleh windfall komoditas eksportir crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel, yang mengalami kenaikan harga, sehingga memberikan sentimen positif terhadap penerimaan negara dan neraca transaksi berjalan.
Relokasi rantai pasok global turut membuka peluang penanaman modal asing ke negara EM, termasuk Indonesia sebagai pusat manufaktur alternatif.
Selain itu, penguatan kebijakan hilirisasi meningkatkan nilai tambah ekspor dengan adanya pergeseran dari raw material ke produk olahan (smelter, katoda, battery grade).
Sebaiknya Anda baca juga:
Transasi energi global turut memicu momentum investasi di kendaraan listrik, nikel, dan energi terbarukan, dimana Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci ekosistem baterai dan listrik global.
“Jangan lupa bahwa walaupun terjadi perang, komitmen transisi energi global ini tetap dilakukan dengan konsisten oleh pemerintah Indonesia,” ungkap Andry Asmoro.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (1)
17 May 2026, 22:10 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!