Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Vida Rilis ID FraudShield, Solusi Deteksi Penipuan Identitas dengan Sistem Keamanan Berlapis

📅 Minggu, 10 Mei 2026, 17:57 WIB | Oleh:

Founder dan Group CEO Vida, Niki Luhur, mengatakan bahwa pendekatan keamanan digital saat ini tidak lagi bisa bergantung pada satu lapisan verifikasi.

“Untuk menangani metode penipuan modern, satu lapisan verifikasi saja tidak lagi cukup. Ada tiga faktor yang harus diverifikasi secara bersamaan, yakni orangnya, identitasnya, dan perangkat yang digunakan,” ujar Niki.

Menurut dia, ID FraudShield dirancang untuk membantu perusahaan mengevaluasi ulang profil risiko penipuan digital sekaligus memperkuat strategi mitigasi yang lebih komprehensif.

“ID FraudShield adalah solusi bagi perusahaan untuk mengkalkulasikan lagi risiko penipuan dan bagaimana menanganinya,” katanya.

Secara teknis, teknologi ini bekerja dengan mengoperasikan dua mesin analitik secara bersamaan dalam satu proses verifikasi.

Mesin pertama adalah Biometric Liveness Detection, yang berfungsi memastikan keberadaan manusia nyata dalam proses autentikasi.

Sistem ini mampu mendeteksi dan mencegah berbagai bentuk manipulasi visual seperti deepfake, spoofing, serta screen replay, yakni upaya menampilkan ulang rekaman wajah melalui layar perangkat untuk mengelabui sistem seolah-olah pengguna sedang melakukan verifikasi secara langsung.

Sementara mesin kedua adalah ID FraudShield Engine, yang menganalisis sinyal perangkat dan perilaku pengguna secara real-time.

Engine ini mengevaluasi berbagai indikator risiko dalam setiap sesi verifikasi dan menghasilkan skor risiko, mulai dari kategori low risk hingga critical risk.

Dua engine tersebut kemudian membentuk sistem pertahanan berlapis yang terdiri dari enam komponen utama.

Lapisan pertama adalah Biometric Liveness, yang memastikan interaksi dilakukan oleh manusia asli. Lapisan kedua, Device Intelligence, bertugas menganalisis perangkat yang digunakan, termasuk mendeteksi emulator, perangkat yang telah dimodifikasi, aplikasi hasil kloning, hingga aktivitas mencurigakan.

Lapisan ketiga adalah Behavioral Analytics, yang memantau pola perilaku pengguna selama proses pengisian data dan verifikasi. Sistem ini dapat mengenali pola interaksi tidak wajar yang sering kali menjadi indikasi aktivitas fraud.

Lapisan keempat, Network & Location Intelligence, digunakan untuk mendeteksi penggunaan VPN, proxy, GPS palsu, maupun ketidaksesuaian antara lokasi dan jaringan pengguna. Lapisan kelima adalah Rule Engine, yang mengevaluasi seluruh indikator risiko secara simultan dan mengklasifikasikan tingkat ancaman dalam waktu nyata.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
DPR RI Ingatkan Pariwisata ...
Pramono Cabut KJP dan KJMU Siswa Bermasalah, Pelaku, Perundungan dan Tawuran

Pramono Cabut KJP dan KJMU Siswa Bermasalah, Pelaku, Perundungan dan Tawuran

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.