Gunung Dukono Bukan Tempat Menantang Maut, Mendaki Bukanlah Soal Menaklukkan Alam, Namun Memahami Batas Manusia di Hadapan Alam
📅 Minggu, 10 Mei 2026, 18:24 WIB | Oleh: OpikErupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat yang menewaskan 24 pendaki pada 3 Desember 2023, kemudian erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara pada 8 Mei 2026 yang juga menewaskan pendaki memperlihatkan bahwa kita memiliki ingatan pendek terhadap bencana vulkanologi. Oleh karena itu, literasi kebencanaan vulkanologi perlu ditingkatkan agar tidak ada lagi pendaki yang mati konyol akibat ketidaktahuan terhadap bahaya erupsi.
Kebiasaan melupakan kengerian letusan gunung api perlu diatasi dengan cara merawat ingatan kolektif melalui ruang-ruang pendidikan dan upaya mitigasi yang intensif.
Tragedi Dukono adalah momentum evaluasi bersama untuk membenahi tata kelola wisata pendakian di Indonesia. Surat rekomendasi yang dikeluarkan oleh PVMBG bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan acuan mutlak bagi keselamatan pendaki di kawasan gunung api aktif.
Jalur pendakian yang ditutup selama periode aktivitas magmatik dan vulkanik yang meningkat harus dipatuhi oleh semua orang dan tidak boleh ada tawar-menawar atas dasar kepentingan ekonomi lokal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Alasan keamanan dan ekologis membuat paradigma wisata massal tidak cocok diterapkan dalam mengelola destinasi wisata gunung api aktif. Pendekatan ideal adalah wisata berkualitas dengan fokus terhadap minat khusus, pengalaman, dan keberlanjutan lingkungan serta budaya.
Sistem pengawasan pendaki harus lebih ketat menggunakan aplikasi pelacakan berbasis GPS guna memantau posisi pendaki secara real-time. Ketika pendaki terbukti menerobos zona berbahaya, maka beri sanksi tegas blacklist hingga denda.
Pemerintah tidak boleh ragu untuk membatasi aktivitas pendakian walau kebijakan itu berdampak serius terhadap angka kunjungan wisatawan dan mempengaruhi pendapatan daerah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbagai destinasi alternatif harus dibangun agar pendaki tidak hanya berambisi mencapai puncak, tetapi juga menikmati suasana alam, budaya, maupun sosial yang melekat kuat dalam kehidupan penduduk lokal.
Tragedi 8 Mei 2026 harus menjadi titik balik pengelolaan wisata Gunung Dukono agar kelak tidak ada lagi korban jiwa akibat bencana erupsi. Kita pun perlu mengubah cara pandang terhadap wisata pendakian bahwa letusan bukanlah objek tontonan. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!