Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Gunung Dukono Bukan Tempat Menantang Maut, Mendaki Bukanlah Soal Menaklukkan Alam, Namun Memahami Batas Manusia di Hadapan Alam

26 Minggu, 10 Mei 2026, 18:24 WIB | Oleh:
Gunung Dukono Bukan Tempat Menantang Maut, Mendaki Bukanlah Soal Menaklukkan Alam, Namun Memahami Batas Manusia di Hadapan Alam Gunung Dukono Bukan Tempat Menantang Maut, Mendaki Bukanlah Soal Menaklukkan Alam, Namun Memahami Batas Manusia di Hadapan Alam Doc: ANTARA/Andri Saputra
Ket. Tim SAR gabungan membawa kantong berisi jenazah pendaki korban erupsi Gunung Dukono di Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (9/5). Pada hari kedua operasi, tim SAR gabungan menemukan satu korban bernama Engel Krishela Pradita sekitar pukul 14.30 WIT.

MATARAM, NTB - Evakuasi paksa terhadap belasan pendaki, jatuhnya satu korban jiwa, serta dua pendaki lain yang masih dalam pencarian menjadi gambaran pahit dari erupsi Gunung Dukono di Pulau Halmahera, Maluku Utara.

Peristiwa itu menunjukkan besarnya ancaman bencana yang mengintai di kawasan gunung api aktif, terutama ketika aktivitas vulkanik meningkat sewaktu-waktu.

Padahal, Dukono bukan gunung yang meletus secara tiba-tiba tanpa memunculkan tanda alam terlebih dahulu sebagai peringatan awal sebelum terjadinya erupsi besar.

Sejak 11 Desember 2024, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah merekomendasikan agar manusia tidak melakukan aktivitas di dalam radius empat kilometer dari pusat vulkanik aktif kawah Malumpang Warirang.

Wisata pendakian pun ditutup sejak 17 April 2026, lantaran aktivitas magmatik dan vulkanik yang meningkat pesat. Zona empat kilometer dari kawah menyimpan ancaman langsung berupa lontaran batu pijar dan sebaran abu vulkanik.

Kolom erupsi berintensitas tebal dengan ketinggian sepuluh kilometer di atas puncak Gunung Dukono merupakan hal lumrah yang kerap terjadi di gunung-gunung berapi aktif mengingat Indonesia secara geografis berada di wilayah cincin api dunia.

Sepanjang tahun 2025, Dukono yang memiliki ketinggian 1.355 meter di atas permukaan laut masuk ke dalam jajaran empat besar gunung paling aktif meletus setelah Gunung Semeru, Gunung Ibu, dan Gunung Lewotobi Laki-laki.

Peringkat empat besar secara nasional menandakan gunung dengan status Level II atau Waspada tersebut bukan arena adrenalin untuk menantang maut, melainkan destinasi alam yang harus selalu dihormati dan diwaspadai oleh manusia.

Gunung Dukono juga menduduki klasifikasi Tipe A lantaran memiliki catatan sejarah letusan sejak tahun 1.600 hingga sekarang. Karakteristik letusan bersifat intermiten dan seringkali tidak disertai dengan gempa vulkanik dalam yang kuat.

Aktivitas mendaki gunung bukanlah soal menaklukkan alam, namun memahami batas manusia di hadapan alam. Keselamatan harus menjadi prioritas utama di atas ego petualangan.

Budaya FOMO

Pasca pandemi Covid-19 yang tidak lagi membatasi ruang gerak manusia untuk beraktivitas di luar rumah, intensitas pendakian ke Gunung Dukono meningkat signifikan akibat banyak video viral yang memperlihatkan detik-detik erupsi dari bibir kawah.

Kehadiran media sosial yang menampilkan cerita-cerita dramatis terkait pendakian gunung berapi aktif menimbulkan budaya takut ketinggalan atau fear or missing out (FOMO), sehingga menumbuhkan tren wisata pendakian ekstrem.

Budaya baru tersebut perlahan terbentuk dan semakin kuat berkat media sosial dengan menempatkan puncak gunung sebagai simbol pencapaian keberanian dan wibawa.

Foto mendaki hingga ke bibir kawah curam, video menyelamatkan diri dari kejaran awan panas, hingga narasi menyaksikan langsung fenomena alam langka letusan gunung berapi dari jarak dekat dipercaya sebagai katrol untuk menarik perhatian publik dan meningkatkan engagement media sosial.

Pada 21 November 2025, sebuah video viral di platform X memperlihatkan aksi seorang pendaki perempuan berbaju hitam yang menyaksikan erupsi secara langsung dari bibir kawah Gunung Dukono.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jenis Pelanggaran Lalu Lintas yang akan Ditindak Selama Operasi Patuh Jaya 2026

Jenis Pelanggaran Lalu Lintas yang akan Ditindak Selama Operasi Patuh Jaya 2026

26 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.