Insentif yang Akurat akan Bangkitkan Ekosistem Manufaktur yang Kuat bagi Negara
📅 Jumat, 08 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiDunia usaha tegas Sobur harus memiliki kesetaraan dan level of playing field yang sehat agar target industrialisasi nasional dapat tercapai.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sendiri menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan serta peningkatan daya saing industri nasional.
Sektor itu juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari 736,21 miliar dollar AS.
Kemenperin menilai dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kinerja sektor industri bahkan mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,30 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11 persen.
Untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat sektor ini, Kemenperin menjalankan program restrukturisasi mesin/peralatan industri pengolahan kayu. Hingga saat ini program tersebut telah memfasilitasi 35 perusahaan dengan total nilai reimbursement mencapai 26,1 miliar rupiah. Program tersebut terbukti meningkatkan efisiensi produksi sebesar 10,70 persen, mutu produk sebesar 36,28 persen, serta produktivitas hingga 32,65 persen.
Masih Punya Ruang
Pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi menilai industri furnitur nasional masih memiliki ruang pertumbuhan besar di tengah tekanan ekonomi global. Hal itu terlihat dari target ekspor mebel 2026 yang dipatok HIMKI sebesar 3 miliar dollar AS atau sekitar 51,45 triliun rupiah.
“Saya melihat, sektor ini strategis karena tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga memiliki efek berganda tinggi terhadap penyerapan tenaga kerja, penguatan UMKM, dan aktivitas ekonomi daerah,” jelas Badiul.
Jika dibandingkan realisasi ekspor 2025 yang berada di kisaran 2,6 miliar dollar AS, target 2026 berarti ada potensi kenaikan sekitar 15 persen. Bahkan dalam jangka menengah, HIMKI menargetkan ekspor mencapai 6 miliar dollar AS. Menurut Badiul, hal itu menunjukkan ambisi menjadikan industri furnitur sebagai salah satu penopang ekspor manufaktur nasional dalam 5 tahun ke depan.
“Target ini penting bagi Indonesia yang selama ini masih terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah dengan nilai tambah rendah,” katanya.
Dari sisi ekonomi nasional, Badiul menilai industri mebel memiliki karakter hilirisasi yang kuat. Nilai tambah tidak berhenti pada bahan baku kayu, tetapi bergerak ke proses desain, produksi, kerajinan, distribusi, hingga ekspor. Karena itu, setiap peningkatan ekspor furnitur akan memberi dampak lebih luas terhadap PDB dibanding ekspor bahan mentah.
“Dalam situasi perlambatan industri manufaktur nasional, sektor padat karya seperti furnitur justru perlu mendapat afirmasi kebijakan agar mampu menjadi bantalan ekonomi domestik,” pungkasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!