Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Insentif yang Akurat akan Bangkitkan Ekosistem Manufaktur yang Kuat bagi Negara

📅 Jumat, 08 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Insentif yang Akurat akan Bangkitkan Ekosistem Manufaktur yang Kuat bagi Negara Doc: antara
Ket. Penguatan Ekonomi - Pemberian Insentif Harus Sesuai Kontribusi Industri ke Perekonomian

Dalam situasi perlambatan industri manufaktur nasional, sektor padat karya seperti furnitur justru perlu mendapat afirmasi kebijakan agar mampu menjadi bantalan ekonomi domestik.

JAKARTA - Dunia usaha berharap Pemerintah dalam memberikan insentif ke industri mengedepankan skala prioritas, terutama yang sejalan dengan kepentingan strategis nasional. Hal itu dimaksudkan agar mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia, Danang Girindrawardana mengatakan insentif pada dasarnya merupakan bentuk investasi negara sehingga pemberiannya harus mempertimbangkan kontribusi industri terhadap penguatan ekonomi nasional, khususnya sektor yang memiliki nilai tambah tinggi melalui Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Insentif adalah investasi negara, maka perlu dipikirkan pada industri yang sejalan dengan kepentingan strategis nasional,” kata Danang saat dihubungi di Jakarta, Kamis (7/5).

Ia menjelaskan, industri dengan TKDN tinggi dinilai memiliki efek berganda yang besar terhadap sektor riil karena mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja sekaligus membangkitkan jejaring rantai pasok domestik secara masif.

Danang menyebut terdapat tiga parameter utama yang dapat digunakan pemerintah dalam menentukan sektor penerima insentif, yakni tingkat TKDN yang tinggi, serapan tenaga kerja yang besar, serta kemampuan industri dalam membangun supply chain domestik.

“Insentif secara akurat seperti itu akan membangkitkan ekosistem manufaktur yang kuat bagi negara,” katanya.

Secara terpisah, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong dalam implementasi kebijakan insentif berbasis pada kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis, Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menyampaikan langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan iklim usaha yang sehat dan memperkuat daya saing industri nasional.

Menurut dia, insentif seharusnya diberikan berdasarkan kontribusi terhadap ekonomi nasional, termasuk peningkatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, investasi teknologi, hingga penguatan devisa negara.

“Pandangan kami, insentif seharusnya berbasis kontribusi terhadap ekonomi nasional, bukan semata status perusahaan swasta atau negara,” kata Sobur.

HIMKI menilai perusahaan yang mencatat kenaikan ekspor signifikan layak memperoleh insentif fiskal seperti yang diterapkan di Tiongkok. Selain itu, industri dengan tingkat serapan tenaga kerja tinggi juga dinilai perlu mendapat dukungan karena berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja nasional.

Tak hanya itu, perusahaan yang berinvestasi pada mesin dan teknologi baru dinilai layak memperoleh tax allowance maupun pembiayaan murah. HIMKI juga mendorong adanya relaksasi bagi merger industri yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Di sisi lain, perusahaan maupun asosiasi yang membangun hub ekspor di luar negeri juga dianggap perlu memperoleh dukungan fiskal karena berpotensi meningkatkan devisa secara signifikan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Aldila Tak Mampu Menerobos Semifinal WTA Ningbo

24 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Aldila Tak Mampu Menerobos ...

El Clasico Jadi Laga Superman Kontra Batman

31 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
El Clasico Jadi Laga Superm...

Perlu Diperbanyak Kontes Film Pendek Guna Dorong Kreativitas

39 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perlu Diperbanyak Kontes Fi...
Daerah
Bantul Raih TPAKD Award 202...
Megapolitan
Jakarta Kota Sinema Makin K...
Megapolitan
Usaha Pembangunan Jaya Jika...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.