Bonus Demografi Bisa Jadi Boncos Demografi! Ini Bahayanya Jika SDM Digital Lemah
📅 Kamis, 23 Apr 2026, 10:06 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA – Mahasiswa doktoral Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Frederik M Gasa, mengingatkan pemerintah untuk segera memperkuat fondasi literasi digital masyarakat seiring datangnya bonus demografi dan pesatnya perkembangan teknologi.
Menurutnya, teknologi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan saat ini, banyak orang sudah mengandalkan AI Tools untuk meringankan pekerjaan maupun tugas.
“Ini jadi sinyal bahwa sudah seharusnya kita serius dalam menguatkan fondasi literasi digital kita agar siap untuk bersaing dalam kompetisi yang semakin canggih,” ujarnya Dosen Komunikasi Politik dan Literasi Digital Universitas Bina Nusantara (Binus) Malang tersebut, Kamis (23/4).
Frederik menilai, kecanggihan kompetisi ke depan harus masuk dalam radar pemerintah. Pasalnya, akan muncul banyak pekerjaan baru yang berkaitan langsung dengan teknologi. Ia mengajukan dua pertanyaan besar yang perlu dijawab.
Pertama, apakah generasi muda saat ini benar-benar melek dalam penggunaan dan pemanfaatan teknologi. Kedua, apakah jumlah anak muda usia produktif saat ini akan benar-benar produktif dalam beberapa tahun ke depan, atau justru menjadi beban negara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kedua pertanyaan itu, kata dia, tidak akan bisa dijawab tanpa adanya peta jalan pemerintah yang merespon perkembangan teknologi.
“Bagi saya pemerintah masih terlalu fokus bermain dan mengurusi ranah konvensional dan belum beranjak ke digital,” tutur Frederik.
Ia juga menyoroti bahwa persoalan yang dihadapi saat ini masih berkisar pada pemenuhan kebutuhan dasar, belum menyentuh penguatan literasi digital yang mendesak ke depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Bahkan soal membatasi akses anak usia dini bermain media sosial, itu memang baik. Tapi apakah itu sudah menjawab persoalan utama kita?” tambahnya.
Ledakan populasi
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan kecepatan pertumbuhan populasi Indonesia berada di atas rata-rata dunia.
"Sekarang penduduk dunia sudah di atas 8 miliar, dan penduduk Indonesia sudah di atas 280 juta jiwa. Kalau mengikuti tren peningkatan penduduk dunia, seharusnya kita ini hanya 240 juta saja. Berarti kecepatan pertumbuhan populasi kita di atas rata-rata dunia. Nah, kalau di atas rata-rata dunia maka kita pun harus hati-hati," ungkapnya dalam agenda Peluncuran Country Programme Implementation Plan (CPIP) Program Kerja Sama Indonesia-UNFPA (United Nations Population Fund) Siklus 11 di Jakarta, Selasa (21/4)
Dalam kondisi ini, Indonesia akan mengalami fase bonus demografi apabila penduduk generasi yang cenderung muda dapat dikelola dengan baik. Sebaliknya, penduduk yang menua akan mengalami penurunan produktivitas. Karena itu, dia mengingatkan seluruh tingkat pemerintah agar dapat menangani persoalan daya dukung lingkungan yang semakin terbatas seiring peningkatan jumlah populasi.
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan, dengan kecepatan pertumbuhan penduduk maka jangan hanya dipandang sebagai bonus demografi tetapi kita harus persiapkan ini dengan baik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!