Lawan Krisis Pangan dengan Tradisi, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah Andalkan Kora Inasua
📅 Selasa, 14 Apr 2026, 18:05 WIB | Oleh: Tim PenulisAMBON – Penguatan budaya pangan lokal berbasis tradisi menjadi langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus melestarikan identitas kultural.
Praktik konsumsi yang berakar pada kearifan lokal—seperti pemanfaatan bahan pangan setempat dan pola makan turun-temurun—tidak hanya memperkaya diversifikasi pangan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada komoditas impor yang rentan terhadap gejolak global.
Secara analitis, revitalisasi pangan lokal membutuhkan pendekatan terpadu, mulai dari edukasi masyarakat, penguatan rantai pasok, hingga inovasi pengolahan agar tetap relevan dengan selera modern.
Tanpa itu, pangan tradisional berisiko terpinggirkan oleh arus industrialisasi dan homogenisasi konsumsi.
Dengan pengelolaan yang tepat, budaya pangan lokal justru dapat menjadi pilar ekonomi daerah sekaligus instrumen keberlanjutan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) memperkuat budaya pangan lokal berbasis tradisi melalui penyelenggaraan Festival Kor’a Inasua di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS) sebagai upaya menjaga keberlanjutan budaya sekaligus sumber daya laut.
Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir di Maluku Tengah, Selasa (14/4), mengatakan, penguatan budaya pangan lokal seperti inasua harus berjalan seiring dengan pelestarian sumber daya alam, khususnya ekosistem laut.
“Sebagai pangan tradisional, inasua menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir di Maluku, khususnya TNS. Dalam hal ini, menjaga laut berkorelasi langsung antara kelestarian lingkungan dengan keberlanjutan budaya dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Festival ini, kata dia, menjadi ruang ekspresi budaya, edukasi konservasi, dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir melalui pengembangan pangan tradisional inasua.
Inasua merupakan produk kuliner tradisional berupa ikan fermentasi khas masyarakat TNS yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak 2015.
Produk ini dihasilkan melalui metode pengawetan ikan menggunakan garam, yang berkembang sebagai solusi pemenuhan pangan saat musim angin.
Selain mencerminkan kearifan lokal dalam pengelolaan hasil laut, inasua juga menegaskan pentingnya menjaga kesehatan ekosistem laut sebagai sumber bahan baku, termasuk ikan laut dalam seperti ikan gindara (Ruvettus pretiosus).
Menurutnya penguatan kapasitas masyarakat, khususnya kelompok perempuan, menjadi fokus utama melalui berbagai pelatihan.
Kegiatan itu mencakup peningkatan kualitas produksi inasua yang higienis dan aman konsumsi, literasi keuangan, hingga pengembangan produk dan strategi pemasaran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!