Mendag: Perjanjian Dagang dengan AS dan Uni Eropa Jadi Magnet Investasi ke Indonesia
📅 Selasa, 04 Agu 2026, 13:45 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan semakin banyak perjanjian perdagangan yang dimiliki Indonesia akan menjadi daya tarik bagi masuknya investasi asing sekaligus memperluas akses pasar ekspor nasional.
Menurut Budi, keberadaan berbagai perjanjian perdagangan, termasuk dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa, membuat Indonesia semakin menarik bagi investor dari negara-negara lain yang ingin memanfaatkan akses ke pasar global.
"Jadi perjanjian perdagangan kita yang semakin banyak, termasuk dengan Amerika dan nanti dengan Uni Eropa, ternyata menarik investasi," kata Budi usai menghadiri Indonesia-Thailand Business Forum di Jakarta, Selasa (4/8).
Ia menjelaskan banyak negara belum memiliki perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat maupun Uni Eropa sehingga akses mereka ke kedua pasar tersebut masih terbatas. Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi basis investasi sekaligus pusat produksi bagi perusahaan yang ingin menembus pasar internasional.
"Karena banyak negara yang belum mempunyai perjanjian perdagangan dengan Amerika maupun Uni Eropa, akses pasarnya tidak mudah. Makanya mereka berinvestasi ke Indonesia untuk bisa menembus pasar Eropa dan pasar Amerika," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Budi menambahkan Amerika Serikat masih menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia. Pada tahun lalu, nilai surplus perdagangan Indonesia dengan Negeri Paman Sam mencapai sekitar 18,11 miliar dolar AS.
"Artinya surplus terbesar kita masih ke Amerika, kemudian India di posisi kedua. Pangsa pasar Amerika sekitar 11,1 persen, sehingga memang kita sangat membutuhkan pasar Amerika," katanya.
Karena itu, menurut Budi, perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat menjadi peluang strategis yang perlu dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing ekspor nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Justru kita harus memiliki perjanjian dengan Amerika karena pasar kita di sana sangat besar. Buktinya, surplus perdagangan kita mencapai 18,11 miliar dolar AS dan menjadi yang terbesar," ujarnya.
Lebih lanjut, Budi optimistis Indonesia tetap mampu meningkatkan kinerja ekspor di tengah dinamika geopolitik global melalui strategi perdagangan yang tepat. Menurutnya, perubahan kondisi geopolitik justru mendorong pergeseran pola perdagangan internasional yang dapat dimanfaatkan Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga terus mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan dengan negara dan kawasan lain, termasuk Timur Tengah, guna memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!