Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemampuan Fiskal Dipertanyakan, Menkeu Diminta Transparan ke Publik

📅 Senin, 06 Apr 2026, 23:59 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kemampuan Fiskal Dipertanyakan, Menkeu Diminta Transparan ke Publik Doc: ANTARA/ Bayu Saputra.
Ket. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah).

JAKARTA – Kenaikan harga minyak dunia berpotensi menambah beban APBN, terutama melalui peningkatan subsidi energi dan kompensasi yang harus ditanggung pemerintah.

Bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor minyak, lonjakan harga global langsung berdampak pada biaya penyediaan BBM domestik.

Secara analitis, tekanan ini dapat memperlebar defisit anggaran jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga atau penguatan penerimaan negara.

Selain itu, kenaikan belanja energi berisiko menggeser alokasi anggaran dari sektor produktif seperti infrastruktur dan perlindungan sosial.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah dituntut menjaga keseimbangan antara stabilitas harga domestik dan keberlanjutan fiskal agar risiko jangka panjang tetap terkendali.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Dolfie Othniel Frederic menyoroti potensi tambahan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kenaikan harga minyak dunia.

Dia meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan secara transparan kemampuan fiskal dalam menghadapi lonjakan subsidi energi.

“Kalau harga minyak dunia rata-rata 100 per barel, tadi Pak Menteri mengatakan fiskal kita masih kuat. Nah, kalau kita menggunakan APBN per dolar itu kan menambah subsidi atau biaya 6,8 triliunan. Betul ya? dikali dengan asumsi 70 kurang 100, 100 kurang 70 berarti kan 30 kali 6,8, jatuhnya 204 triliun,” kata Dolfie dalam Rapat Kerja Komisi XI bersama Menteri Keuangan di Gedung Nusantara I, DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (6/4).

Dia menjelaskan, tambahan beban tersebut berpotensi membuat Kementerian Keuangan harus menambah belanja hingga Rp204 triliun khusus untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir tahun.

“Di akhir tahun kita perlu menambah belanja, uang belanja 204 triliun khusus untuk subsidi BBM,” ujar Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi secara matang, terutama terkait dengan ruang fiskal yang tersedia dalam APBN. Ia menekankan pentingnya kejelasan Kementerian Keuangan dalam menjelaskan sumber pembiayaan tambahan tersebut kepada publik.

“Nah, itu yang mungkin perlu dijelaskan, ruang untuk membayar kompensasi terkait BBM itu ada berapa? Kalau pengalaman tahun-tahun sebelumnya itu kan sekitar 150 triliun untuk membayar kompensasi,” jelas Dolfie.

Meski demikian, Dolfie menilai kebutuhan tambahan anggaran tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola. Namun, transparansi tetap menjadi kunci agar tidak menimbulkan ketidakpastian di tengah dinamika ekonomi global.

“Nah, itu yang perlu kita dengar Pak Menteri penjelasan itu, transparansi dari aspek kemampuan APBN, ruang fiskalnya itu ada di mana menghadapi tambahan belanja yang diperlukan akibat perubahan asumsi,” tegas Dolfie.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.