Merajut Harapan dari Bambu, Perajin Besek Magetan Bertahan di Tengah Perubahan
📅 Minggu, 05 Apr 2026, 17:02 WIB | Oleh: Tim PenulisMAGETAN – Di sudut tenang Desa Durenan, bunyi “krek-krek” bambu yang dianyam seolah menjadi irama harian yang tak pernah benar-benar hilang. Di tangan para perajin, bilah-bilah bambu yang sederhana berubah menjadi besek—wadah tradisional yang kini justru menemukan napas baru di tengah perubahan zaman.
Bagi warga setempat, membuat besek bukan sekadar pekerjaan, tapi juga warisan yang sudah mengakar sejak lama. Pagi hingga sore, mereka duduk bersila, merangkai setiap helai bambu dengan ketelatenan yang nyaris seperti meditasi.
Meski sempat tergerus oleh kemasan modern, besek dari Desa Durenan tetap punya tempat tersendiri, terutama saat momen hajatan, kiriman makanan, hingga kebutuhan ramah lingkungan yang kini kembali naik daun.
Menariknya, para perajin tak tinggal diam. Mereka mulai berkreasi—mengubah bentuk, ukuran, hingga menambahkan sentuhan desain agar besek lebih relevan dengan selera pasar. Ada yang membuat model lebih minimalis untuk kemasan hampers, ada pula yang menyesuaikan ukuran untuk kebutuhan katering modern. Kreativitas ini jadi cara mereka bertahan, sekaligus membuka peluang baru.
Permintaan pun perlahan kembali mengalir. Tak hanya dari pasar lokal, pesanan juga datang dari luar daerah. Besek yang dulu dianggap “jadul” kini justru dilirik sebagai alternatif kemasan yang lebih alami dan berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di tengah arus modernisasi, para perajin di Desa Durenan menunjukkan satu hal sederhana: tradisi tak harus hilang untuk bisa bertahan. Kadang, ia hanya perlu beradaptasi—mengikuti zaman tanpa kehilangan jati diri.
Perajin besek dari anyaman bambu desa setempat, Indah di Magetan, Minggu (5/4), mengatakan, untuk tetap eksis pihaknya gencar berinovasi dan memasarkan produknya itu dengan cara daring melalui media sosial maupun luring.
"Mayoritas di sini memang membuat besek. Dulu, bentuknya sederhana, kotak polos dan tanpa variasi. Namun seiring waktu, para perajin berinovasi dengan menciptakan berbagai bentuk dan warna," ujar Mbak Indah, sapaan akrabnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, usaha kerajinan besek tersebut sudah ditekuni sejak puluhan tahun. Hal itu mengikuti jejak para perempuan di kampungnya yang juga menggantungkan hidup dari anyaman bambu.
Saat masa pandemi COVID-19, usahanya malah semakin ramai pesanan. Besek justru menjadi pilihan utama sebagai wadah makanan yang dibawa pulang.
"Waktu pandemi COVID-19 melanda, pesanan malah ramai. Dari situlah, inovasi mulai tumbuh," kata Mbak Indah.
Permintaan konsumen yang semakin beragam, juga mendorong perubahan desain oleh para perajin. Tak lagi hanya berbentuk kotak, kini besek hadir dengan variasi ada pegangan, warna-warni cerah, hingga model jinjing yang lebih menarik.
"Ada juga atas permintaan konsumen dari lihat di gambar. Dari situ, Kita ya belajar juga," katanya.
Saat ini, ia mengaku telah membuat lebih dari tujuh desain dengan tingkat kesulitan yang berbeda untuk menarik minat pembeli. Salah satu yang paling sulit adalah besek kecil dengan variasi tambahan pegangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!