Chef Gun Kasih Tips Hemat LPG di Tengah Ancaman Krisis Energi Global, Ikuti Caranya!
📅 Minggu, 29 Mar 2026, 19:02 WIB | Oleh: OpikJAKARTA - Pemerintah mengimbau masyarakat untuk hemat energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM) dan LPG di tengah kondisi geopolitik yang berdampak pada ancaman krisis energi global.
Menyikapi kondisi tersebut, Technical Chef produsen tepung beras Cheff Igun Gunawan memberikan tips praktis untuk menghemat penggunaan LPG atau bahan bakar gas dalam rumah tangga.
Menurut Chef Gun, sapaan akrabnya, antisipasi terhadap ancaman krisis energi tidak selalu harus direspons dengan langkah besar. Peran masyarakat, kata dia, bisa dimulai dengan upaya sederhana namun penuh kesadaran terhadap pola hemat energi termasuk, LPG.
"Banyak orang berpikir krisis energi itu urusan pemerintah atau industri besar. Padahal, dapur rumah tangga juga punya kontribusi besar. Cara kita memasak setiap hari itu menentukan,” ujar dia di Jakarta, Minggu (29/3).
Menurutnya, pola memasak masyarakat Indonesia masih cenderung belum efisien. Kebiasaan menyalakan kompor sebelum semua bahan siap menjadi salah satu penyebab utama pemborosan gas yang sering tidak disadari.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tanpa sadar, kita sering buang gas hanya karena tidak siap. Kompor sudah menyala, tapi masih sibuk potong bahan. Ini terlihat sepele, tapi kalau terjadi setiap hari, dampaknya besar,” jelas juru masak yang juga sering membina usaha UMKM se-Jawa Barat.
Lebih jauh, Chef Gun menekankan efisiensi tidak hanya soal waktu tetapi juga teknik, misalnya perlakuan awal terhadap bahan makanan seperti merendam dapat mempercepat proses memasak, sekaligus mengurangi konsumsi energi.
“Teknik sederhana seperti merendam bahan itu sebenarnya sudah lama dikenal, tapi sering diabaikan. Padahal ini cara paling mudah untuk mempercepat masak tanpa harus menambah waktu pemanasan,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain faktor kebiasaan, aspek teknis seperti kondisi kompor juga menjadi perhatian, menurut Chef Gun banyak rumah tangga yang tidak menyadari bahwa kompor yang kotor atau tidak terawat dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna.
Utamanya bagian tungku pembakaran atau burner yang menjadi sumber penyimpan kotoran berasal dari tumpahan kuah masakan, minyak atau air jika dibiarkan dan tidak dibersihkan akan menghambat aliran gas, sehingga penggunaan gas cenderung boros.
“Api yang bagus itu biru. Kalau sudah kuning, berarti ada yang tidak beres. Itu tandanya gas tidak terbakar optimal, dan kita sebenarnya sedang membuang energi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman dasar dalam memasak, termasuk penggunaan api dan alat masak. Menurutnya, masih banyak anggapan keliru bahwa api besar akan mempercepat proses memasak.
“Ini mindset yang harus diluruskan. Api besar justru sering membuat panas tidak merata dan terbuang. Api sedang itu lebih stabil, lebih efisien, dan hasil masakan juga lebih baik,” tegasnya.
Melalui efisiensi energi di dapur, kata dia, diharapkan bisa memberikan dampak sangat besar jika dilakukan secara kolektif oleh jutaan rumah tangga di Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!