Jobstreet Ungkap Tren Resign 2026: Akhir Tahun Ternyata Lebih Rawan daripada Pasca-Lebaran
📅 Jumat, 27 Mar 2026, 13:35 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Berakhirnya masa libur Lebaran dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) kerap menjadi momen meningkatnya aktivitas pencarian kerja di Indonesia. Periode ini bahkan sering disebut sebagai "musim semi" bagi para pencari kerja yang mulai mempertimbangkan ulang arah karier mereka.
Meski kerap dikaitkan dengan fenomena karyawan berpindah kerja demi gaji lebih tinggi, data terbaru menunjukkan alasan di balik keputusan tersebut jauh lebih kompleks. Tidak sedikit pekerja yang telah merencanakan resign jauh sebelum Lebaran tiba.
Menanggapi hal ini, Talent Acquisition Manager Jobstreet by SEEK, Ria Novita, meluruskan persepsi umum terkait lonjakan resign pasca-Lebaran. Ia menegaskan bahwa peningkatan pencarian kerja tidak selalu berbanding lurus dengan angka pengunduran diri.
"Fenomena resign sesudah Lebaran ini memang terjadi, akan tetapi tidak dalam jumlah yang signifikan dibanding periode lainnya seperti akhir tahun atau setelah performance review yang biasanya berkaitan dengan promosi dan kenaikan gaji," jelas Ria.
Menurutnya, sebagian karyawan yang mengundurkan diri setelah Lebaran umumnya sudah memiliki rencana sejak lama. Mereka hanya menunggu pencairan THR agar tetap mendapatkan haknya secara penuh sebelum resmi meninggalkan perusahaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Bagi yang resign setelah Lebaran, biasanya dikarenakan mereka memang sudah berniat sejak jauh hari, namun masih menunggu pembayaran THR agar mendapatkan haknya secara penuh," lanjutnya.
Dari sisi etika dan regulasi, langkah tersebut dinilai tetap sah selama karyawan mengikuti prosedur yang berlaku. THR sendiri merupakan hak pekerja yang telah memenuhi ketentuan masa kerja sesuai aturan.
"Selama karyawan memenuhi ketentuan masa kerja dan mengikuti prosedur pengunduran diri yang berlaku di perusahaan, resign setelah menerima THR pada dasarnya tetap dapat dipandang sebagai sesuatu yang sah dan etis," tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih jauh, laporan Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK mengungkap bahwa gaji bukan satu-satunya faktor utama dalam menentukan kebahagiaan kerja. Sebanyak 54 persen pekerja memang menginginkan penghasilan lebih tinggi, namun faktor lain justru lebih menentukan loyalitas.
Dua faktor utama yang menjadi penentu kebahagiaan kerja adalah keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan makna dalam pekerjaan (purpose at work). Pekerja yang merasa pekerjaannya bermakna cenderung lebih puas dan tidak mudah berpindah.
Data juga menunjukkan bahwa pekerja yang bahagia memiliki peluang 24 persen lebih besar untuk memberikan kinerja ekstra di tempat kerja. Hal ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan untuk tidak hanya fokus pada kompensasi finansial.
Bagi perusahaan, fenomena ini seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan peluang evaluasi. Komunikasi yang baik antara karyawan dan manajemen dapat membantu mengantisipasi potensi resign sejak dini.
"Dari kacamata perusahaan, setiap keputusan resign pasti membawa konsekuensi, baik berupa waktu maupun biaya untuk rekrutmen dan pelatihan," ujar Ria.
Ia menekankan pentingnya memahami alasan di balik keputusan karyawan untuk keluar dari perusahaan. Evaluasi menyeluruh terhadap jenjang karier, budaya kerja, hingga sistem kompensasi menjadi kunci menjaga stabilitas tenaga kerja.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!