Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspadalah Warga Yogyakarta Karena Akan Mengalami Kemarau Lebih Kering

📅 Kamis, 12 Mar 2026, 01:12 WIB | Oleh:
Waspadalah Warga Yogyakarta Karena Akan Mengalami Kemarau Lebih Kering Doc: ist
Ket. ancaman kekeringan

YOGYAKARTA – Sekarang mungkin masih ada hujan turun. Namun, saat musim kemarau tiba, Yogyakarata (DIY) bakal mengalami lebih kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau 2026 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) lebih kering dibandingkan tahun lalu dengan curah hujan yang cenderung berada di bawah normal.

Kepala Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas di Yogyakarta, Rabu, mengatakan sebagian besar wilayah DIY diprakirakan mulai memasuki musim kemarau pada Dasarian III April 2026. "Sifat musim kemarau 2026 di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta umumnya bawah normal, artinya hujannya lebih sedikit daripada rata-rata klimatologisnya atau lebih kering dari biasanya," kata Reni.

Meski sebagian besar pada akhir April, Reni menyebut sejumlah kecamatan di Kabupaten Sleman, wilayah Kota Yogyakarta, Kulon Progo bagian utara, sebagian wilayah Gunungkidul bagian barat, serta wilayah Bantul bagian utara, diprakirakan baru memasuki musim kemarau pada Dasarian I Mei 2026.

Menurut Reni, kondisi musim kemarau yang cenderung lebih kering itu juga dipengaruhi indikasi fenomena El Nino lemah yang berpotensi muncul pada pertengahan hingga akhir 2026. "Ada indikasi fenomena El Nino lemah pada pertengahan tahun yang dapat menyebabkan curah hujan cenderung lebih sedikit," ujar dia.

BMKG memprakirakan puncak musim kemarau di wilayah DIY terjadi pada Agustus 2026. Ia menambahkan durasi musim kemarau di sebagian besar wilayah DIY diprediksi berlangsung sekitar 19 hingga 21 dasarian atau sekitar 6,5 hingga tujuh bulan.

BMKG juga memprediksi akhir musim kemarau di wilayah DIY umumnya terjadi pada dasarian I November 2026. Meski demikian Reni mengingatkan pada masa peralihan musim atau pancaroba pada Maret hingga April masih berpotensi terjadi hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir.

Ia menambahkan curah hujan di wilayah DIY pada Maret masih berada pada kategori menengah hingga tinggi, kemudian diprediksi mulai menurun pada April dan Mei seiring peralihan menuju musim kemarau. Karena itu BMKG mengimbau instansi terkait dan para pemangku kepentingan untuk mengantisipasi kondisi iklim yang berpotensi lebih kering dari biasanya.

"Kami mohon instansi terkait dan stakeholder dapat mengantisipasi kondisi iklim ke depan yang cenderung lebih sedikit curah hujannya," kata Reni. Ia juga mengingatkan para petani untuk menyesuaikan pola tanam dan mengantisipasi potensi defisit air pada musim kemarau mendatang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...

Babak Pertama Skuad Garuda Harus Mencetak Gol

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Babak Pertama Skuad Garuda ...
Advertisement
Badan Geologi Ingatkan soal Gas Beracun di Balik Blue Fire Papandayan

Badan Geologi Ingatkan soal Gas Beracun di Balik Blue Fire Papandayan

28 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.