Harga Minyak Melonjak, Negara-Negara Asia Perketat Sabuk Pengaman
📅 Senin, 09 Mar 2026, 23:22 WIB | Oleh: Deri Henriawan
Doc: AFP/ROBYN BECK
ISTANBUL - Negara-negara Asia merasakan dampak perang AS-Israel dan Iran yang mendorong harga minyak mentah global melewati 100 dolar per barel, Senin (9/3).
Di India, pihak berwenang mengatakan harga bahan bakar tetap tidak berubah untuk saat ini, karena pemerintahnya mengandalkan sumber pasokan yang beragam dan cadangan strategis.
Para pejabat India menyatakan negara tersebut telah mengumpulkan cadangan minyak bumi dan stok komersial yang cukup untuk konsumsi sekitar 50 hingga 74 hari, memberikan penyangga terhadap gangguan pasokan.
Kemudian, Tiongkok, sebagai importir minyak terbesar di dunia, juga mengamati perkembangan dengan cermat.
Menurut Atlantic Council, Beijing telah membangun cadangan minyak mentah dan memiliki produksi minyak domestik yang lebih besar daripada kondisi ekonomi di banyak negara Asia Timur. Hal itu memberikan perlindungan jika pasokan dari Timur Tengah terganggu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lalu, di Australia, pemerintah negeri kanguru itu telah mendesak masyarakat untuk tidak membeli secara berlebihan di tengah laporan bahwa para petani dilaporkan menimbun solar.
Menteri Perindustrian, Energi, dan Pengurangan Emisi Australia Chris Bowen mengatakan negaranya masih memiliki cadangan yang kuat.
"Fundamentalnya bagus karena Australia memiliki pasokan yang baik," kata Bowen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Langkah Penghematan
Masih di Asia, beberapa pemerintah sudah mengambil langkah-langkah darurat. Misalnya, di Pakistan, Perdana Menteri Shehbaz Sharif sedang menyiapkan rencana penghematan berupa pembelajaran jarak jauh dan pengaturan kerja dari rumah setelah pihak berwenang setempat mengumumkan kenaikan harga bensin sebesar 55 rupee (Rp3.317) per liter, yang merupakan harga tertinggi.
Bangladesh juga memerintahkan penutupan sementara terhadap lembaga pendidikan di seluruh negeri itu guna menghemat listrik dan bahan bakar. Pejabat setempat mengatakan langkah tersebut dapat mengurangi konsumsi listrik dan penggunaan energi transportasi.
Sementara itu, di Malaysia, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengatakan pihaknya akan berupaya menjaga harga bensin tetap 1,99 ringgit (Rp8.511) per liter.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk memastikan harga RON95 tetap 1,99 ringgit agar rakyat tidak terbebani," kata Anwar Ibrahim seperti dilaporkan oleh Kantor Berita Bernama.
Secara terpisah, para ahli industri di Sri Lanka memperingatkan bahwa biaya pengiriman yang lebih tinggi dan depresiasi mata uang dapat mendorong harga pangan naik sebesar 5-10 persen dalam beberapa bulan mendatang, menurut harian lokal Daily Mirror.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!