Libatkan Petani, Bojonegoro Serius Garap Komoditas Bernilai Tinggi
📅 Selasa, 24 Feb 2026, 21:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa
BOJONEGORO – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro pada 2026 mengarahkan pengembangan komoditas hortikultura produktif seperti alpukat dan jambu mete sebagai strategi diversifikasi pertanian daerah.
Langkah ini dinilai relevan untuk meningkatkan nilai tambah lahan, khususnya di wilayah dengan karakteristik tanah kering yang kurang optimal untuk tanaman pangan tertentu.
Pengembangan alpukat dan jambu mete berpotensi memperkuat ketahanan ekonomi petani karena kedua komoditas tersebut memiliki permintaan pasar yang stabil dan prospek harga relatif kompetitif.
Selain mendorong peningkatan pendapatan petani, kebijakan ini juga dapat memperluas basis komoditas unggulan daerah serta mengurangi ketergantungan pada satu jenis tanaman, sehingga struktur pertanian Bojonegoro menjadi lebih adaptif terhadap risiko iklim dan fluktuasi harga.
Kepala DKPP Kabupaten Bojonegoro Zaenal Fanani di Bojonegoro, Selasa (24/2), mengatakan tanaman buah alpukat dan jambu mete tersebut diberikan kepada Kelompok Tani (Poktan) yang memenuhi kualifikasi administratif dan teknis.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pengembangan alpukat dan jambu mete diberikan kepada masyarakat antara 300 sampai 400 batang setiap hektare namun angka pasti baru akan ditetapkan setelah tim teknis melakukan verifikasi lapangan," katanya.
Zaenal mengatakan pemberian bibit buah tidak menetapkan batas minimal luas lahan yang akan ditanami, namun lokasi yang diajukan harus memenuhi kriteria teknis untuk lokasi penanaman.
Selain itu, kelompok tani perlu menyiapkan persyaratan seperti Surat Keterangan Terdaftar (SKT) yang ditandatangani oleh Bupati, identitas pengurus kelompok, dan foto titik koordinat calon lokasi penanaman untuk verifikasi lapangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kelompok tani juga harus menyertakan proposal permohonan bantuan yang ditandatangani ketua kelompok tani serta diketahui dan disetujui oleh kepala desa dan penyuluh pertanian setempat.
Zaenal memastikan pemerintah tidak akan membiarkan petani penerima manfaat berjalan sendiri mengingat setiap kelompok tani yang lolos verifikasi Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) akan mendapatkan pendampingan teknis dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) mulai dari tanam sampai panen.
"Disamping itu, setelah dilakukan droping bibit buah-buahan, petani akan dibekali teknik budidaya sampai panen dan pasca panen," ujarnya.
Program ini selain memberikan manfaat ekonomi melalui potensi peningkatan pendapatan petani, juga sekaligus mendukung upaya konservasi tanah dan air, meningkatkan tutupan vegetasi, serta memperkuat ketahanan lingkungan.
Pola tanam yang diterapkan mengedepankan prinsip agroforestry yaitu memadukan tanaman kehutanan dan tanaman buah secara harmonis sehingga akan terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.
"Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap tercipta kawasan hutan yang produktif, lestari dan mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat desa hutan," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!