Masa Depan Mandalika Antara Gemuruh MotoGP dan Tradisi Bau Nyale, Mungkinkan Jalan Beriringan?
📅 Rabu, 11 Feb 2026, 19:05 WIB | Oleh: OpikEksposur global dari ajang ini tidak kecil. Jutaan pasang mata menyaksikan Mandalika melalui siaran internasional dan media digital. Namun kontrak yang berakhir pada 2031 menjadi pengingat bahwa event besar bersifat temporer. Kebergantungan berlebihan pada satu ajang berisiko menciptakan ketimpangan ketika sorotan dunia berpindah.
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal dalam rapat koordinasi bersama ITDC dan pemangku kepentingan pariwisata menekankan pentingnya diversifikasi agenda wisata.
“Kita tidak boleh bergantung pada satu event saja. MotoGP memang memberi dampak besar, tetapi Mandalika harus hidup sepanjang tahun. Karena itu, kolaborasi antara olahraga, budaya seperti Bau Nyale, dan pemberdayaan UMKM menjadi strategi utama agar ekonomi daerah tumbuh berkelanjutan,” kata Lalu Muhammad Iqbal.
Karena itu, Bau Nyale dan berbagai side event menjadi penyangga penting. Bhayangkara Riding Day 2026 yang diikuti sekitar 3.500 bikers dari berbagai daerah, misalnya, tidak hanya menjadi ajang otomotif, tetapi juga kampanye keselamatan berkendara dan penggalangan bantuan kemanusiaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Model seperti ini menunjukkan integrasi antara olahraga, solidaritas sosial, dan promosi destinasi. Sports tourism tidak selalu harus berupa balap kelas dunia. Ia bisa hadir dalam bentuk komunitas, fun run, triathlon pantai, hingga festival sepeda yang menyatu dengan lanskap budaya.
Pengalaman sejumlah daerah menunjukkan bahwa diversifikasi event menjadi kunci keberlanjutan. Bali tidak hanya mengandalkan satu festival, Yogyakarta memadukan budaya dan olahraga dalam berbagai ajang lari internasional. Mandalika memiliki potensi serupa dengan keunggulan pantai, bukit, dan tradisi unik seperti Bau Nyale.
Arah kebijakan
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengembangan Mandalika memerlukan orkestrasi lintas sektor. Pemerintah Provinsi NTB, ITDC, pemerintah kabupaten, asosiasi pariwisata, hingga komunitas lokal harus berada dalam satu visi. Isu konektivitas, ketersediaan hotel, tata kelola lahan, hingga kualitas layanan menjadi pekerjaan rumah bersama.
Yang tak kalah penting adalah aspek lingkungan. Bau Nyale berlangsung di ekosistem pesisir yang rentan. Lonjakan pengunjung berpotensi meningkatkan sampah dan tekanan terhadap habitat laut. Jika tidak dikelola dengan baik, ironi bisa terjadi: tradisi yang lahir dari penghormatan terhadap alam justru merusaknya.
Pendekatan pariwisata berkelanjutan harus menjadi prinsip dasar. Edukasi kepada pengunjung, pembatasan zona tangkap, pengelolaan sampah terpadu, hingga pelibatan kelompok sadar wisata menjadi langkah konkret.
Selain itu, peningkatan kapasitas UMKM lokal menjadi kunci agar manfaat ekonomi tidak bocor keluar daerah. Pelatihan manajemen usaha, akses pembiayaan, hingga digitalisasi pemasaran dapat memperkuat daya saing pelaku lokal. Dengan begitu, pertumbuhan tidak hanya terlihat pada angka makro, tetapi terasa dalam dapur rumah tangga.
Mandalika berada di persimpangan penting. Ia memiliki sirkuit berstandar dunia, tetapi juga legenda yang mengakar kuat. Ia disorot dunia karena balap motor, namun dicintai masyarakat karena cerita Putri Mandalika.
Ketika ribuan orang kembali turun ke laut setiap tahun, mereka tidak hanya mencari nyale. Mereka merawat ingatan kolektif. Tugas kebijakan publik adalah memastikan bahwa ingatan itu tidak tergerus oleh komersialisasi berlebihan, melainkan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!