Enam Daerah Jadi Pilot, Pemerintah Dorong Hilirisasi Ayam dari Hulu ke Hilir
📅 Minggu, 08 Feb 2026, 21:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Adeng Bustomi
JAKARTA – Hilirisasi ayam terintegrasi menjadi strategi penting untuk memperkuat rantai nilai perunggasan dari hulu ke hilir, mulai dari pembibitan, pakan, budi daya, hingga pengolahan dan distribusi.
Dengan sistem yang terhubung, efisiensi produksi meningkat, risiko fluktuasi harga dapat ditekan, dan nilai tambah tidak berhenti di tingkat peternak.
Pendekatan ini juga membuka peluang industri olahan, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan pangan berbasis protein hewani.
Dalam jangka panjang, hilirisasi ayam terintegrasi berpotensi menciptakan ekosistem perunggasan yang lebih stabil, berdaya saing, dan berorientasi ekspor.
Kementerian Pertanian menyatakan, pemerintah mulai hilirisasi ayam terintegrasi di enam daerah guna memperkuat swasembada protein nasional, meningkatkan nilai tambah, serta menjaga stabilitas pasokan pangan bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pemerintah memperkuat fondasi swasembada protein nasional melalui pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir di enam daerah," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda dalam keterangan di Jakarta, Minggu (8/2).
Dia menyampaikan, langkah strategis itu telah ditandai dengan Groundbreaking Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi Fase I di enam titik oleh Danantara yang dipusatkan di Malang, Jawa Timur.
Pada tahap awal, pengembangan dilakukan di enam lokasi, yaitu Jawa Timur (Malang), Sulawesi Selatan (Bone), Gorontalo (Gorontalo Utara), Kalimantan Timur (Paser), Nusa Tenggara Barat (Sumbawa), dan Lampung (Lampung Selatan), sebagai bagian dari rencana pengembangan nasional di 30 titik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Agung menyampaikan, program hilirisasi itu diinisiasi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai langkah antisipatif negara untuk memastikan ketersediaan pasokan daging ayam dan telur yang aman, berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat.
"Seiring meningkatnya kebutuhan nasional, khususnya untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan mencapai 1,1 juta ton daging ayam dan 774 ribu ton telur per tahun," beber Agung.
Dia menegaskan, hilirisasi ayam merupakan pembangunan ekosistem perunggasan nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Ia menekankan, Kementerian Pertanian mendukung penuh program hilirisasi sebagai instrumen pemerataan produksi antarwilayah, stabilisasi harga, serta kepastian pasokan daging ayam dan telur, khususnya untuk menopang pelaksanaan MBG secara berkelanjutan.
“Hilirisasi ayam terintegrasi ini untuk memastikan swasembada protein berjalan berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat,” ucap Agung.
Ia menjelaskan, ekosistem yang dibangun mencakup penguatan pembibitan ayam dari hulu mulai grand parent stock (GPS), parent stock (PS), final stock (FS); pengembangan pakan berbasis bahan baku dalam negeri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!