Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Target Dekat Menuju Skuad yang Sulit Dikalahkan

📅 Jumat, 06 Feb 2026, 00:00 WIB | Oleh:

Kanada memberi saya kesempatan besar. Dari 2011 hingga 2018 saya menangani tim nasional wanita. Kami meraih medali perunggu Olimpiade London 2012 dan Rio de Janeiro 2016, serta medali emas Pan American Games 2011. Prestasi itu membangun budaya percaya diri dan profesionalisme di dalam tim.

Transisi ke tim nasional putra Kanada cukup mengejutkan?

Banyak yang meragukan, dan itu wajar. Namun saya percaya prinsip kepelatihan bersifat universal. Pada tahun 2022 kami berhasil membawa Kanada ke Piala Dunia di Qatar, mengakhiri penantian sejak 1986. Itu momen emosional yang menunjukkan bahwa proses jangka panjang bisa menghasilkan hasil nyata.

Anda juga mengoleksi berbagai penghargaan individu?

Penghargaan tentu membanggakan, tetapi bagi saya itu bukan tujuan utama. Kebahagiaan terbesar adalah melihat orang-orang yang saya latih tumbuh dan berkembang. Jika mereka menjadi versi terbaik dari diri mereka, maka saya merasa pekerjaan berhasil.

Sering menyebut diri sebagai seorang guru?

Karena itulah identitas saya. Sebagian besar pelatih adalah guru. Kami mengajarkan nilai, disiplin, dan cara berpikir. Sepak bola hanyalah medium. Filosofi saya adalah membantu orang menjadi lebih baik, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Saya menikmati pekerjaan ini. Saya menikmati melihat orang-orang bisa terus tumbuh, berkembang sebagai seorang guru, sebagai pendidik, sebagai dosen. Saya selalu menikmati proses pengajaran pembelajaran. Jadi saya mampu secara alami beralih ke pelatihan sepak bola.

Bekerja di tingkat akar rumput, bekerja di tingkat akademi profesional level. Kemudian berkembang ke sepak bola wanita, sepak bola Olimpiade, Piala Dunia sepak bola, sepak bola klub. Sekarang di sini, Indonesia.

Bagaimana filosofi itu diterapkan di Timnas Indonesia?

Indonesia memiliki keberagaman yang luar biasa. Ada pemain lokal, diaspora, dan naturalisasi. Saya tidak melihat paspor. Saya melihat manusia. Jati diri pemain tidak ditentukan oleh dokumen, tetapi oleh komitmen dan nilai. Keberagaman ini bisa menjadi kekuatan besar jika dikelola dengan benar.

Isu pemain lokal dan diaspora sering menjadi perdebatan.

Saya memahami dinamika itu, tetapi ingin menegaskan bahwa musuh kita bukan di ruang ganti. Musuh kita ada di lapangan. Energi seharusnya digunakan untuk bersatu, bukan berdebat. Keberagaman hanya menjadi kelemahan jika kita memilih menjadikannya kelemahan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
KPK Tampilkan Barang Bukti ...
Daerah
Perkembangan Pembangunan Se...
Nasional
Sektor Informal Masih Menye...

Aktivitas Pengosongan Hotel Sultan

2 jam lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Aktivitas Pengosongan Hotel...
Luar Negeri
Korut akan Persenjatai AL d...
Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.