Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tekanan Fiskal Bisa Buyarkan Target Pertumbuhan 6 Persen

📅 Rabu, 21 Jan 2026, 06:01 WIB | Oleh:
Tekanan Fiskal Bisa Buyarkan Target Pertumbuhan 6 Persen Doc: ist
Ket. ancaman pertumbuhan

JAKARTA – Indonesia memiliki problem fiskal yang harus diatasi, jika tidak, ini bisa membuyarkan target pertumbuhan ekonomi 6 persen. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mewanti-wanti target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen tahun 2026 berisiko tidak tercapai apabila persoalan fiskal tidak segera dibenahi.

Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri mengatakan, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 semakin besar di tengah kebijakan pengetatan belanja pemerintah.

"Pada tahun ini menurut saya juga ada kemungkinan permasalahan fiskal. Ini bukan hanya masalah misalokasi, tetapi juga pada sustainability ataupun juga keberlanjutan fiskal," kata Yose di Jakarta, Selasa.

Dalam hal ini, ia menyoroti defisit anggaran yang sudah mendekati 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), level yang relatif jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagaimana diketahui, hingga 31 Desember 2025, defisit APBN 2025 tercatat Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap PDB. Sementara di saat yang sama, beban pembiayaan pemerintah justru semakin mahal.

Menurut Yose, tekanan fiskal juga diperberat oleh kewajiban belanja yang tertunda dari tahun sebelumnya, seperti pembayaran subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM) yang baru direalisasikan pada tahun ini. Akumulasi beban itu berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah.

"Kebanyakan belanja yang ada itu banyak yang masih belum dibayarkan, belum disisihkan. Dibayarkan baru tahun ini, misalnya untuk subsidi BBM," ujarnya.

Jika tekanan tidak tertangani, Yose menilai dampaknya tidak hanya mengganggu jalannya pemerintahan, tetapi juga berisiko menurunkan kualitas layanan publik. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah transfer ke daerah.

"Padahal public services di daerah itu sangat tergantung sekali kepada transfer dari Jakarta," tambahnya.Dengan kondisi tersebut, Yose berpendapat target pertumbuhan ekonomi 6 persen yang dicanangkan Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya bakal sulit dicapai.

Sebagai catatan, pendapatan negara pada postur APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp3.153,58 triliun, terdiri atas penerimaan perpajakan sebesar Rp2.693,71 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp459,2 triliun, dan hibah Rp666,27 miliar.

Sementara belanja negara didesain dengan target Rp3.842,73 triliun, yang mencakup belanja pemerintah pusat Rp3.149,73 triliun dan transfer ke daerah (TKD) Rp692,99 triliun. Dengan demikian, proyeksi defisit APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp689,15 triliun atau 2,68 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Asosiasi Ojek Online: Aturan Bagi Hasil 92:8 Persen Beri Dampak Nyata Pengemudi Ojol
    Preview komentar:
    Saya bingung ojol seperti Grab gojek Maxim itu ...
    Pak presiden jangan percaya lap.bawahan yg ada ojol ...
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...

Malam Ini Jakarta Gelar Pesta Rakyat HUT RI ke-81

36 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Malam Ini Jakarta Gelar Pes...
Olahraga
Luis Enrique Kecewa Berat! ...

Bergerak Bersama, ASDP Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT

59 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Daerah
Bergerak Bersama, ASDP Anta...
Jokowi Tiba di Istana untuk HUT RI ke-81, Penampilan dengan Adat Bali Jadi Sorotan

Jokowi Tiba di Istana untuk HUT RI ke-81, Penampilan dengan Adat Bali Jadi Sorotan

17 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.