Dari Sawah Rusak ke Padat Karya, Cara Negara Menenangkan Petani
📅 Sabtu, 17 Jan 2026, 07:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Yudi Manar
JAKARTA – Di tengah sawah yang masih belepotan lumpur dan sisa-sisa bencana, negara akhirnya turun tangan dengan cara yang tak kalah “bersahaja”: menggaji petani.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, petani tak hanya diminta sabar menunggu panen berikutnya, tapi juga diajak bekerja lewat skema padat karya untuk memulihkan sawah-sawah yang rusak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Singkatnya, sambil menyelamatkan lahan, dapur petani tetap mengepul.
Skema ini seolah mengirim pesan, petani bukan sekadar penonton di lahan sendiri. Negara datang bukan hanya membawa target produksi dan grafik ketahanan pangan, tapi juga amplop upah.
Lumpur dibersihkan, saluran irigasi diperbaiki, sawah dirapikan—dan semua itu dihitung sebagai kerja yang dibayar, bukan pengabdian yang diminta ikhlas.
Di balik jargon pemulihan dan produksi nasional, logikanya sederhana. Kalau sawah dibiarkan rusak, beras ikut mogok panen, lalu harga naik, dan akhirnya semua ikut mengeluh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Maka sebelum nasi jadi bubur—atau malah jadi mahal—petani digerakkan, digaji, dan diharapkan kembali menanam. Negara pun bisa tetap percaya diri bicara soal menjaga produksi pangan.
Jadi, di tengah bencana, petani tak cuma disuruh kuat mental, tapi juga diberi peran nyata plus upah. Sawah pulih, petani bekerja, produksi dijaga.
Sebuah skema yang mungkin terdengar sederhana, tapi setidaknya memberi sinyal: kali ini, petani tak hanya diminta bertahan, tapi juga dihitung jasanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Melalui skema ini, petani tidak hanya memulihkan lahan pertanian, tetapi juga memperoleh pendapatan selama proses pemulihan berlangsung," kata Mentan sebagaimana keterangan di Jakarta, Jumat (16/1).
Mentan menegaskan sawah-sawah yang rusak di ketiga wilayah tersebut akan diperbaiki kembali dengan melibatkan langsung pemilik lahan.
Sawah yang rusak diperbaiki sendiri oleh pemiliknya, tetapi biayanya ditanggung oleh pemerintah pusat.
"Jadi saudara kita punya pendapatan, sementara benih dibantu gratis, pengolahan tanah, perbaikan irigasi semuanya dibantu pusat. Ini perintah langsung Bapak Presiden,” tegasnya.
Menurut dia, konsep padat karya memastikan seluruh pemilik sawah terlibat aktif dalam proses rehabilitasi.
Mereka bekerja di lahannya sendiri dan mendapatkan penghasilan harian yang cukup untuk kebutuhan keluarga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!