Makna Isra Miraj Menurut Akademisi UIN Saizu: Jaga Disiplin Spiritual dan Sosial
📅 Jumat, 16 Jan 2026, 11:07 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Akademisi Universitas Islam Negeri KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Muridan mengajak umat Islam merawat disiplin spiritual dan sosial melalui pemaknaan reflektif terhadap peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.
“Isra Miraj tidak cukup dipahami sebagai peristiwa spiritual semata, tetapi sebagai pesan etis tentang bagaimana iman diwujudkan dalam disiplin hidup dan kepedulian sosial,” kata dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Saizu itu di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat.
Ia mengatakan perintah shalat lima waktu yang diterima Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Miraj menjadi fondasi utama disiplin dalam Islam, karena mengatur waktu, menata gerak, dan melatih konsistensi dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, shalat bukan sekadar kewajiban ritual, juga pendidikan karakter yang berlangsung terus-menerus.
Oleh karena itu, disiplin waktu, keteraturan, dan kekhusyukan yang dilatih dalam shalat seharusnya membentuk sikap hidup umat dalam berbagai bidang.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Shalat melatih keteraturan dan konsistensi, sehingga nilai-nilainya semestinya tercermin dalam etos kerja, tanggung jawab dan integritas sosial,” katanya.
Kendati demikian, dia menilai disiplin spiritual tersebut kerap berhenti pada kesalehan personal, sementara etika sosial justru tertinggal.
Padahal, kata dia, Al Quran mengaitkan shalat dengan pencegahan perbuatan keji dan mungkar.
Ia menegaskan nilai shalat tidak dimaksudkan berhenti di sajadah, melainkan menyeberang ke ruang sosial, ekonomi, dan budaya agar membentuk perilaku yang beradab dalam kehidupan bersama.
“Jika shalat dijalankan secara utuh, semestinya mencegah ketidakjujuran, ketidakdisiplinan, dan pengabaian terhadap amanah publik,” katanya.
Menurut dia, Isra Miraj perlu dibaca secara kontekstual agar tetap relevan dengan tantangan zaman.
Setelah menerima perintah shalat, kata dia, Nabi Muhammad SAW tidak menetap di langit, melainkan kembali ke bumi dan masyarakat.
Peristiwa tersebut, lanjut dia, menjadi simbol bahwa spiritualitas sejati tidak mengasingkan diri, tetapi justru menguatkan keberpihakan pada realitas sosial yang dihadapi umat.
“Ini pesan penting bahwa perjalanan spiritual harus berujung pada penguatan tanggung jawab sosial,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!