Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Riset Harus Berdampak Nyata bagi Pembangunan Ekonomi

📅 Kamis, 15 Jan 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Riset Harus Berdampak Nyata bagi Pembangunan Ekonomi Doc: antara
Ket. Arif Satria Kepala BRIN - Presiden menekankan agar riset tidak hanya menjadi tambahan pengetahuan, tetapi harus berdampak langsung pada ekonomi

Hasil riset dipandang sebagai keharusan agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dimanfaatkan oleh industri, pemerintah, dan masyarakat.

Jakarta — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan percepatan riset nasional harus diarahkan untuk memberikan dampak nyata bagi pembangunan dan perekonomian Indonesia. Penegasan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan riset sebagai instrumen strategis negara, bukan sekadar aktivitas akademik atau penambah pengetahuan semata.

Seperti dikutip dari Antara, Arif mengatakan Presiden Prabowo menekankan agar riset mampu menjawab kebutuhan konkret pembangunan nasional dan berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena itu, hilirisasi hasil riset dipandang sebagai keharusan agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dimanfaatkan oleh industri, pemerintah, dan masyarakat.

“Presiden menekankan agar riset tidak hanya menjadi tambahan pengetahuan, tetapi harus berdampak langsung pada ekonomi. Karena itu, percepatan hilirisasi menjadi keniscayaan,” ujar Arif melalui keterangan di Jakarta, Rabu (14/1).

Ia menjelaskan, Presiden menempatkan riset sebagai instrumen strategis untuk mendukung prioritas nasional, mulai dari ketahanan pangan, kesehatan, energi, dan lingkungan, hingga penguatan industri strategis seperti nuklir dan dirgantara. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, BRIN menerapkan kebijakan riset berbasis pendekatan top-down, terutama untuk riset yang berasal dari kebutuhan kementerian/lembaga serta proyek strategis nasional yang tidak dapat dikompetisikan.

Pendekatan top-down ini difokuskan pada riset terapan dengan tingkat kesiapan penerapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) yang tinggi, serta target penyelesaian yang lebih cepat. Dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), BRIN mendorong agar riset yang sebelumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun dapat diselesaikan dalam jangka yang lebih singkat.

“Dengan dukungan pendanaan LPDP, hasil riset diharapkan dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan perekonomian nasional,” kata Arif.

Selain mendorong riset terapan, BRIN juga mengembangkan riset berbasis future technology forecast. Pendekatan ini bertujuan memastikan arah industrialisasi nasional tetap relevan dengan perkembangan teknologi global. 

Regulasi Kecerdasan Buatan

Di sisi lain, pemerintah juga tengah menyiapkan kerangka regulasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari upaya memastikan riset dan inovasi teknologi berjalan seiring dengan kepastian hukum. Dua regulasi utama berupa Peta Jalan AI dan Etika AI dirancang untuk dituangkan dalam Peraturan Presiden yang ditargetkan ditandatangani pada awal 2026.

Pakar teknologi informasi sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menilai regulasi AI diperlukan untuk memberi arah dan kepastian hukum di tengah pesatnya adopsi teknologi tersebut di sektor pendidikan, kesehatan, keuangan, hingga ruang publik digital. Menurut dia, regulasi bukan untuk membatasi inovasi, melainkan menjadi instrumen kedaulatan digital. Pandangan serupa disampaikan dosen ITB Mohammad Ridwan Effendi yang menekankan pentingnya kejelasan pertanggungjawaban hukum atas dampak penggunaan AI.

Para pakar sepakat, regulasi AI ideal bagi Indonesia adalah regulasi yang adaptif, berbasis risiko, serta mampu menjaga kedaulatan data dan teknologi nasional tanpa mematikan kreativitas. Dengan riset yang diarahkan pada dampak nyata serta regulasi yang tepat, pembangunan ekonomi Indonesia diharapkan semakin bertumpu pada inovasi, daya saing, dan kemandirian teknologi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.