Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menjaga Nafas 'Padi Kaisar' di Kaki Gunung Halu

📅 Kamis, 01 Jan 2026, 05:23 WIB | Oleh:

"Dulu ribet, banyak berkas yang menimbulkan masalah besar jika hilang misalnya. Sekarang? Cukup KTP," kata Yulia.

Prosesnya pun, kini transparan bak kaca. Petani datang, KTP dipindai, wajah difoto bersama titik koordinat, dan tanda tangan digital dibubuhkan.

"Kalau ada petani iseng mengaku-ngaku tapi tidak terdaftar di RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok), sistem langsung menolak. Konflik di kios jadi minim, semua tercatat," ujarnya.

Donny sendiri mengamini hal tersebut yang menurutnya aplikasi ini memastikan prinsip 7T (Tepat Jenis, Jumlah, Harga, Tempat, Waktu, Mutu, dan Sasaran) bukan sekadar jargon. Karena jejak digital meminimalisir penyimpangan yang dulu menjadi momok distribusi.

Data dan Harapan

Meski teknologi dengan i-Pubers telah mempermudah penebusan, tantangan mendasar masih mengintip dari balik data seperti yang belum terdata karena belum tersosialisasi, atau salah input masa tanam dalam setahun.

Ketua Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah Institut Pertanian Bogor, A Faroby Falatehan, mengungkapkan dalam sistem yang ada saat ini, ternyata ketidaksinkronan data yang masih menjadi "penyakit kronis".

"Survei kami menemukan perbedaan data profesi petani di dokumen kependudukan dengan kondisi riil mencapai 68 persen. Bahkan ada 12 persen petani riil yang belum masuk kelompok tani," papar Faroby.

Data yang tidak akurat ini membuat serapan pupuk bersubsidi fluktuatif cenderung turun, yakni 79 persen di 2023, turun ke 77 persen di 2024, dan baru 58 persen hingga September 2025.

Perpres Nomor 6 Tahun 2025 yang memangkas 145 regulasi, juga disebut menjadi satu skema efisien diharapkan menjadi solusi pamungkas dalam memastikan serapan pupuk bersubsidi optimal.

Sinergi antara penyuluh, dinas pertanian, dan Pupuk Indonesia dalam memvalidasi RDKK setiap tiga hingga empat bulan sekali juga menjadi kunci agar tidak ada kaum tani yang terlewat.

"Jadi dalam regulasi dibuka ruang tiap tiga hingga empat bulan itu bisa merubah jumlah masa tanam, kemudian memasukan petani penerima manfaat yang baru," ucapnya.

Kembali ke Gunung Halu, di tengah sawah yang mulai menguning, Juhdi menaruh harapan sederhana. Dari bulir-bulir Beas Hideung yang dirawat dengan pupuk bersubsidi itulah, ia bisa menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang tertinggi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ekonomi
Bandara Internasional Minan...
Ekonomi
OIKN sebut Wastra Berpotens...

Cuaca Jakarta Cerah, namun juga Bisa Turun Hujan Ringan

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Cuaca Jakarta Cerah, namun ...
Megapolitan
Angkutan Umum Makin Nyaman,...
  • Bukan Sekadar Pesta Budaya, Festival Tabut 2026 Ditarget Dongkrak Kas Daerah
    Preview komentar:
  • 5 Pengelola Wisata Pantai di Tulungagung Stop Tarik Retribusi, Ada Apa Ya?
    Preview komentar:
  • Iran Kembali akan Tutup Selat Hormuz sebagai Protes Serangan Israel di Lebanon
    Preview komentar:
    Cara Menghubungi Call Center KrediOne: Hubungi call center ...
    Cara Menghubungi Call Center KrediOne: Hubungi call center ...
Hasil Pertandingan Grup F Piala Dunia 2026: Jepang Kuntit Belanda Usai Singkirkan Tunisia dengan Skor Telak 4-0

Hasil Pertandingan Grup F Piala Dunia 2026: Jepang Kuntit Belanda Usai Singkirkan Tunisia dengan Skor Telak 4-0

21 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.