Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menjaga Nafas 'Padi Kaisar' di Kaki Gunung Halu

📅 Kamis, 01 Jan 2026, 05:23 WIB | Oleh:
Menjaga Nafas 'Padi Kaisar' di Kaki Gunung Halu Doc: Antara
Ket. Bulir Beas Hideung Cigadog, varietas padi hitam lokal yang menjadi "harta karun" tersembunyi di tanah Priangan.

BANDUNG , JAWA BARAT - Kabut tipis masih menyelimuti punggung bukit Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, ketika Juhdi, pria berusia 50-an, menatap hamparan sawahnya yang berbeda rupa.

Ketua Kelompok Tani Fajar Bakti Desa Sirnajaya itu, melihat di antara dominasi warna hijau kekuningan padi biasa, terselip petak-petak sawah dengan bulir berwarna gelap pekat, berdiri angkuh namun menyimpan tuah.

Itulah Beas Hideung Cigadog, varietas padi hitam lokal yang menjadi "harta karun" tersembunyi di tanah Priangan.

"Ini warisan leluhur, sudah turun-temurun. Dan sejak tahun 2000-an saya sudah mulai tanam dengan intens," ujar Juhdi sambil menunjukkan malai padi yang merunduk berat.

Beas Hideung, di mana dunia mengenalnya sebagai forbidden rice, dahulu di kekaisaran China, adalah sajian "terlarang" bagi rakyat jelata, karena eksklusif hanya untuk meja makan kaisar demi umur panjang.

Tapi kini di Gunung Halu, mitos eksklusivitas itu bertransformasi menjadi penopang ekonomi nyata.

Juhdi tidak membual soal nilai ekonominya. Jika gabah padi putih biasa dihargai Rp700.000 per kuintal, gabah Beas Hideung bisa menembus Rp1.000.000 per kuintal. Adapun ketika menjadi beras, harganya menginjak Rp20.000 per kilogram di tingkat petani, jauh di atas beras premium pasar.

Namun, di balik kilau harganya, ada tantangan yang nyata, pertama usia tanam yang rata-rata panjang mencapai 5-6 bulan atau dua bulan lebih lama dari padi putih, walau pada kasus Juhdi dia bisa panen tiap empat bulan mengingat lahan yang digarapnya berada di lembah dengan air yang melimpah.

Kemudian tantangan kedua, adalah produktivitas yang hanya tiga ton per hektare, separuh dari padi konvensional.

Di sinilah peran vital pupuk sebagai nutrisi bumi menjadi penentu. Tanpa asupan pupuk yang tepat, varietas lokal yang rentan ini bisa gagal memberikan bulir terbaiknya.

Nafas Subsidi hingga Revolusi Digital

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2024 Jawa Barat memiliki luas panen padi 1,47 juta hektare dengan produksi 8,62 juta ton gabah kering giling (GKG). Di Kabupaten Bandung Barat sendiri, dari 148.802 ton produksi padi, Beas Hideung Cigadog mengambil porsi kecil namun signifikan sebagai komoditas premium.

Agar produksi ini tidak mati suri, PT Pupuk Indonesia hadir bukan sekadar sebagai penyalur berkarung-karung pupuk, melainkan sebagai penjaga ketahanan pangan hingga ke pelosok desa.

Donny Rachman Wiratama, Manajer Jabar 2 dan DKI Jakarta PT Pupuk Indonesia Niaga, menegaskan komitmen tersebut bukan janji kosong.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Nasional
Polisi Buru Pemodal Sindika...
Nasional
Rumah Adat di Kawasan Wisat...
Olahraga
Sinner Mundur dari AS Terbu...
Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

22 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.